Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 September 2026 | 03.32 WIB

Ekonom Taksir Pertamax Harusnya Dijual Rp 16.800, Pertimbangkan Harga Minyak dan Nilai Tukar Rupiah

Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Harga Pertamax di Jakarta dinilai masih dalam batas wajar. Ekonom memperkirakan harga keekonomian sesungguhnya masih di atas harga jual sekarang Rp 15.950 per liter.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menghitung harga keekonomian Pertamax di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.800 per liter. 

Perhitungan tersebut mempertimbangkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, biaya distribusi dan penyimpanan, margin keuntungan, serta pajak yang berlaku. 

“Artinya, dengan harga Pertamax yang masih Rp 15.950 per liter, ada selisih sekitar Rp 750—900 per liter yang secara ekonomi belum tecermin dalam harga jual,” kata Yusuf saat dihubungi, Kamis (3/9).

Dia menyakini, pemerintah menahan harga jual Pertamax pada awal September 2026 semata untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Menurut saya, keputusan pemerintah dan Pertamina menahan harga Pertamax di awal September ini merupakan pilihan yang cukup sadar untuk menjaga daya beli dan kondisi sosial masyarakat,” jelasnya.

Meski Pertamax bukan BBM bersubsidi, Yusuf menjelaskan selisih antara harga keekonomian dan harga jual tetap harus ditanggung dalam struktur keuangan Pertamina. Dalam jangka pendek, kondisi tersebut masih dapat dikelola, terutama karena harga sejumlah produk BBM nonsubsidi lainnya sudah mengalami penyesuaian.

Namun, kebijakan ini tidak bisa boleh dilakukan dalam jangka panjang. Sebab, akan menekan margin, arus kas, laba, hingga ruang investasi perusahaan, terutama di sektor hulu dan kilang.

Terpisah, Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Bonar Tua Halomoan Marbun menilai, produksi minyak domestik masih di bawah kebutuhan nasional. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengatur beban harga BBM.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore