
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax atau RON92 belum juga turun meskipun harga minyak dunia sudah lebih murah. Ekonom menilai kondisi ini masih dalam batas rasional.
Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi penghalusan harga dari yang selama ini diterapkan Pertamina. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh keputusan Pertamina yang menahan harga Pertamax beberapa bulan sebelumnya.
"Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp 16.250 pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi. Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya," kata Yayan saat dihubungi, Jumat (3/7).
Yayan mengatakan, terdapat formula tersendiri menghitung harga BBM non subsidi. Sehingga, tidak semata mengacu kepada harga minyak dunia.
Proyeksi bulan Agustus 2026 formula dasar memang mengarah pada harga sekitar Rp 13.700 per liter, tetapi pendekatan smoothing memperkirakan harga berada di kisaran Rp16.000 per liter atau tidak jauh berbeda dengan harga saat ini.
Dengan penyesuaian harga Pertamax mengacu kepada sistem yang tepat, diperkirakan bisa berdampak pada inflasi sekitar 0,4 poin dalam tiga bulan.
Sebaliknya, apabila harga dipertahankan, manfaat penurunan harga minyak dunia lebih banyak digunakan untuk memperbaiki margin Pertamina, sementara beban subsidi pemerintah terhadap Pertalite dan Solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran.
"Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar−0,4 poin persentase dari inflasi selama tiga bulan (pelonggaran tahunan dari 3,34 persen menuju sekitar 2,9 persen); jika ditahan, dampaknya nihil dan seluruh penurunan minyak mengalir ke anggaran dan ke pemulihan margin Pertamina," jelasnya.
Terpisah, Pakar kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Kristian Widya Wicaksono mengatakan, belum turunnya harga BBM non subsidi masih bisa diterima. Namun, pemerintah perlu menyampaikan secara transparan tentang penghitungan harga yang diterapkan kepada publik.

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Spanyol vs Austria: Bursa Taruhan Jagokan La Roja, Opta Klaim Peluang Menang 70,6 Persen
Kemenhub Ungkap Kronologi Putus Kontak Pesawat PK-RCY di Balinggama Papua, Pilot Dilaporkan Meninggal Dunia
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
