Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 April 2026 | 15.42 WIB

Bahlil Amankan Pasokan BBM dan LPG dari Rusia, Akademisi Nilai sebagai Langkah Masuk Akal

MT Spyros yang membawa 1 juta barel minyak mentah (crude) dari Aljazair. (Dok. Pertamina)

 

JawaPos.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev menekan kerja sama pengadaan minyak mentah (crude), LPG, serta pengembangan fasilitas penyimpanan (storage). Kerja sama ini sebagai lagkah menjaga stok minyak di tengah perang yang terjadi di Iran.
 
Peneliti Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Ridho Hantoro menilai, kerja sama ini menjadi langkah masuk akal dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.
 
“Tambahan pasokan dari Rusia adalah langkah taktis yang masuk akal untuk memperluas opsi pasok dan mengurangi risiko konsentrasi impor,” ujar Ridho saat dihubungi, Sabtu (18/4).
 
Adanya rencana pembangunan storage juga sebagai langkah penting. Penguatan infrastruktur penyimpanan merupakan langkah yang lebih fundamental dibanding sekadar menambah volume pasokan.
 
 
“Pembangunan storage adalah langkah strategis yang lebih fundamental, karena memperkuat ketahanan sistem, bukan hanya menambah volume pembelian sesaat,” imbuhnya.
 
Meski begitu, capaian ini diingatkan tidak sebatas berhenti dalam diplomatik. Pemerintah perlu memikirkan pentingnya indikator teknis dalam implementasi, mulai dari harga pasokan yang kompetitif, kesesuaian jenis crude dengan kilang domestik, hingga efektivitas LPG dalam menekan impor.
 
Ridho menyakini kerja sama dengan Rusia bisa membuka jalan dalam menjalankan strategi transisi dan ketahanan energi nasional. Sebab, penambahaj pasokan dari luar negeri harus diiringi dengan penguatan domestik.
 
“Indonesia tetap perlu paralel memperkuat lifting domestik, upgrading kilang, efisiensi konsumsi BBM, substitusi LPG, bioenergi, dan percepatan elektrifikasi. Tanpa itu, tambahan pasokan hanya akan memperbaiki gejala, bukan akar kerentanannya,” tegasnya.
 
Sementara, dosen dan peneliti kebijakan publik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ahmad Nizar Hilmi kerja sama dengan Rusia dianggap sebagai langkah dinamika ekonomi-politik energi global yang memengaruhi arah kebijakan domestik.
 
“Dalam perspektif kebijakan, kerja sama pasokan energi dengan Rusia perlu dibaca bukan sekadar solusi teknokratis untuk menambah stok, tetapi juga bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global yang membentuk pilihan kebijakan domestik,” ujar Nizar.
 
Di sisi lain, ia menilai langkah pemerintah tetap relevan sebagai kebijakan stabilisasi di tengah tekanan global. Energi, kata dia, merupakan komoditas politik yang sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi.
 
“Menjaga suplai dan harga tetap terkendali berarti meredam potensi tekanan sosial akibat inflasi dan gejolak ekonomi. Karena itu, kebijakan ini bersifat pragmatis dalam jangka pendek, tetapi berisiko menjadi ‘manajemen ketergantungan’ jika tidak diiringi agenda perbaikan lain yang lebih mendasar,” pungkasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore