Ilustrasi kelapa sawit. (Istimewa)
JawaPos.com - Dosen sekaligus peneliti di Pusat Studi Sawit IPB University, Siti Nikmatin menilai, industri kelapa sawit di Indonesia memiliki potensi besar untuk menerapkan model ekonomi sirkular. Dengan cara ini, limbah bisa didaur ulang untuk menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing.
"Model ekonomi sirkular memungkinkan untuk diterapkan di industri kelapa sawit dan memang harus diterapkan. Bagaimana menerapkan itu semua? Pastinya membutuhkan ilmu dan teknologi," kata Siti di Jakarta, Kamis (16/4).
Situ menjelaskan, kelapa sawit merupakan tanaman yang dikategorikan sebagai zero waste crop atau tanaman nihil limbah. Seluruh bagian tanaman sawit mulai dari buah, biji, pelepah, tandan kosong, hingga batang, dapat diolah menjadi produk bermanfaat.
Sebagai contoh, tandan kosong kelapa sawit atau TKKS dapat dioptimalkan menjadi produk-produk biomaterial seperti helm, rompi anti-peluru, hingga sepatu. Cangkang sawit atau palm oil shell dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti bahan bakar boiler di pabrik kelapa sawit, bahan campuran beton dan material bangunan, hingga bahan baku biobriket dan biopellet.
"Jadi, yang saya lakukan untuk memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit menjadi produk-produk biomaterial itu merupakan upaya untuk menerapkan model ekonomi sirkular di industri sawit," imbuhnya.
Dosen dari Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University ini mengatakan, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) selama ini banyak memberikan bantuan dalam proses riset. BPDP dianggap telah banyak memberikan bantuan kepada para peneliti.
"Sudah ada bukti nyata bahwa BPDP mendukung penelitian inovatif untuk kemajuan sawit di Indonesia. Saya termasuk peneliti yang mendapat dukungan dana penelitian sawit dari BPDP," jelasnya.
Siti menyampaikan, penerapan model ekonomi sirkular di industri kelapa sawit akan memberi dampak positif terhadap lingkungan dan ekonomi. Pasalnya, produk turunan berbahan dasar limbah kelapa sawit bisa mendukung kelestarian lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi.
Selain dampak ekonomi, sistem ini juga bisa memberikan dampak sosial. Masyarakat di sekitar pabrik bisa dilibatkan dalam dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah ekonomi.
"Kalau memang perusahaan itu tidak mengolah semua sendiri, bisa melibatkan masyarakat di lingkungan perkebunan kelapa sawit. Pastinya itu akan membawa dampak positif ke masyarakat," pungkasnya.