Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 September 2025 | 16.40 WIB

Pengembangan PLTP, Pakar Geothermal ITB: Emisi Panas Bumi Sepersepuluh Pembangkit Batu Bara

Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (26/6). - Image

Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (26/6).

JawaPos.com — Pengembangan energi panas bumi atau geothermal dinilai tidak hanya bermanfaat positif bagi lingkungan. Ia juga mampu mendorong perekonomian masyarakat.

"Pemanfaatan energi panas bumi sangat penting untuk mendukung penurunan emisi karbon dan memenuhi kebutuhan energi nasional," ujar pakar geothermal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ali Ashat, dikutip Jumat (19/9).

Ali menekankan bahwa pembangkit geotermal memiliki keunggulan dibanding energi baru terbarukan (EBT) lainnya karena dapat beroperasi penuh 24 jam, layaknya pembangkit batu bara, namun dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah.

"Geotermal menghasilkan emisi yang sangat kecil. Perbandingannya, jika pembangkit batu bara menghasilkan emisi karbon dioksida hingga 1.000, geotermal hanya sekitar 100 atau bahkan kurang," jelasnya.

Tak hanya itu, Ali juga meluruskan berbagai miskonsepsi soal panas bumi, termasuk kekhawatiran terkait dampak lingkungan seperti pencemaran air tanah atau eksploitasi berlebihan.

"Sumber energi panas bumi berada jauh di bawah permukaan bumi, terpisah dari sistem air tanah yang digunakan masyarakat. Jadi tidak mengganggu kebutuhan air warga. Selain itu, emisinya sangat rendah dibandingkan pembangkit konvensional," tegasnya.

Ali mencontohkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang di Jawa Barat, yang telah beroperasi sejak 1983. PLTP ini, menurutnya, menjadi bukti konkret keberhasilan pengembangan energi hijau di Indonesia.

Sebagai contoh keberhasilan, Ali menilai; kolaborasi antara industri dan masyarakat. "Di Kamojang, masyarakat dan industri telah hidup berdampingan secara harmonis lebih dari 40 tahun," ujarnya.

Hal tersebut juga diamini oleh Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Gunung Kamojang, Sudarman. Ia menyebut kehadiran PLTP justru membawa banyak manfaat bagi warga sekitar.

"Tidak ada dampak negatif. Warga nyaman tinggal di sekitar pembangkit. Kami justru mendapat banyak bantuan, seperti bibit, pupuk, dan alat pengolahan kopi. Saya sendiri bisa memperluas kebun kopi hingga tiga hektare karena dukungan itu," ungkapnya.

Sudarman menambahkan, manfaat dari keberadaan PLTP juga dirasakan melalui pembukaan lapangan kerja, program tanggung jawab sosial (CSR), hingga pengembangan ekonomi lokal. Salah satu inovasi warga adalah produk wanakis, olahan kulit kopi yang dikembangkan menjadi teh, tepung, hingga produk kecantikan.

"Kami bisa berinovasi karena ada dukungan dari pembangkit. Banyak warga yang dulu menganggur, kini punya pekerjaan. Ekonomi masyarakat pun tumbuh," tutup Sudarman.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore