
Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (26/6).
JawaPos.com — Pengembangan energi panas bumi atau geothermal dinilai tidak hanya bermanfaat positif bagi lingkungan. Ia juga mampu mendorong perekonomian masyarakat.
"Pemanfaatan energi panas bumi sangat penting untuk mendukung penurunan emisi karbon dan memenuhi kebutuhan energi nasional," ujar pakar geothermal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ali Ashat, dikutip Jumat (19/9).
Ali menekankan bahwa pembangkit geotermal memiliki keunggulan dibanding energi baru terbarukan (EBT) lainnya karena dapat beroperasi penuh 24 jam, layaknya pembangkit batu bara, namun dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah.
"Geotermal menghasilkan emisi yang sangat kecil. Perbandingannya, jika pembangkit batu bara menghasilkan emisi karbon dioksida hingga 1.000, geotermal hanya sekitar 100 atau bahkan kurang," jelasnya.
Tak hanya itu, Ali juga meluruskan berbagai miskonsepsi soal panas bumi, termasuk kekhawatiran terkait dampak lingkungan seperti pencemaran air tanah atau eksploitasi berlebihan.
"Sumber energi panas bumi berada jauh di bawah permukaan bumi, terpisah dari sistem air tanah yang digunakan masyarakat. Jadi tidak mengganggu kebutuhan air warga. Selain itu, emisinya sangat rendah dibandingkan pembangkit konvensional," tegasnya.
Ali mencontohkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang di Jawa Barat, yang telah beroperasi sejak 1983. PLTP ini, menurutnya, menjadi bukti konkret keberhasilan pengembangan energi hijau di Indonesia.
Sebagai contoh keberhasilan, Ali menilai; kolaborasi antara industri dan masyarakat. "Di Kamojang, masyarakat dan industri telah hidup berdampingan secara harmonis lebih dari 40 tahun," ujarnya.
Hal tersebut juga diamini oleh Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Gunung Kamojang, Sudarman. Ia menyebut kehadiran PLTP justru membawa banyak manfaat bagi warga sekitar.
"Tidak ada dampak negatif. Warga nyaman tinggal di sekitar pembangkit. Kami justru mendapat banyak bantuan, seperti bibit, pupuk, dan alat pengolahan kopi. Saya sendiri bisa memperluas kebun kopi hingga tiga hektare karena dukungan itu," ungkapnya.
Sudarman menambahkan, manfaat dari keberadaan PLTP juga dirasakan melalui pembukaan lapangan kerja, program tanggung jawab sosial (CSR), hingga pengembangan ekonomi lokal. Salah satu inovasi warga adalah produk wanakis, olahan kulit kopi yang dikembangkan menjadi teh, tepung, hingga produk kecantikan.
"Kami bisa berinovasi karena ada dukungan dari pembangkit. Banyak warga yang dulu menganggur, kini punya pekerjaan. Ekonomi masyarakat pun tumbuh," tutup Sudarman.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
