
Konferensi pers 5th Asia CCUS Network Forum di Jakarta, Kamis (11/9). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Indonesia tengah mempercepat pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sebagai langkah strategis menuju target Net Zero Emission 2060. Bahkan, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan sedikitnya 15 proyek CCS/CCUS beroperasi pada 2030, dengan dukungan regulasi baru dan keterlibatan sejumlah perusahaan energi besar.
Dalam hal ini Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (Eria) yang turut bekerja sama dengan Kementerian ESDM, mengungkapkan strategi yang dilakukan oleh pihaknya untuk melakukan standarisasi regulasi antar negara terkait CCS dan CCUS. Eria sendiri memang telah menjadi Sekretariat Asia CCUS Network (ACN) yang menghubungkan pemerintah, industri, dan akademisi di kawasan Asia untuk berbagi pengetahuan dan mendorong kolaborasi.
"Jadi, kita berusaha mempertemukan para stakeholder apakah itu industri pemerintah untuk bersama-sama diskusi, mengidentifikasi bagian mana dari regulasi yang dirasa belum mendapat (masih kurang) terus bagaimana konklusinya," kata I Gusti Suarnaya Sidemen, CCUS Research Fellow Eria dalam konferensi pers Forum Asia CCUS ke-5 di Jakarta, Kamis (11/9).
"Seperti dalam forum kemarin kelihatan bahwa karena belum adanya, misalnya bagaimana resiko itu dibagi antar negara belum dibahas (lebih) secara bersama, sehingga regulasi itu perlu (dikaji lagi)," imbuhnya.
Selain itu, dirinya juga menyoroti mengenai standar bersama antar negara terkait kesepakatan aspek teknis seperti spesifikasi Co2 yang akan didaur ulang, serta letak serah terima tanggung jawab mengenai hal itu. "Nah, itu yang menjadi salah satu (yang diperhatikan), sebagai lembaga kita mencoba untuk mempertemukan stakeholder agar isu-isu ini dapat dibahas dan tentu disediakan juga oleh masing-masing negara," jelasnya.
Sementara itu, Mohammad Rachmat Sule, Indonesia Centre of Excellence for CCS and CCUS ITB, mengatakan, sejatinya pembuatan regulasi telah dilakukan dengan matang menyesuaikan kondisi di Indonesia dengan melibatkan sejumlah narasumber dari berbagai sektor. Pihaknya juga telah mempertimbangkan apa yang sudah pernah dilakukan oleh negara lain dalam pembuatan regulasi.
Dia pun menekankan, implementasi CCS/CCUS bisa terjadi paling cepat pada 2029 di Indonesia. "Nah, berarti kita masih punya waktu 4 tahunan untuk masih belajar bagaimana sampai regulasi itu bisa diterbitkan dengan sebaik-baiknya, tidak merugikan negara, tidak merugikan lingkungan dan memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Yuji Muto, Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, menyampaikan strategi Jepang dalam pengembangan CCUS. Dia menekankan pentingnya integrasi teknologi ini dalam agenda Green Transformation (GX). "Jepang berkomitmen mencapai target Net Zero global dengan mendorong Green Transformation yang mampu menjaga ketahanan energi, mendukung pertumbuhan ekonomi, sekaligus menurunkan emisi. CCUS menjadi teknologi kunci untuk memperkuat daya saing industri di sektor-sektor yang sulit menurunkan emisi, seperti baja dan kimia, serta untuk mengurangi emisi dari pembangkit listrik," ujar Muto.
Dia menambahkan, Jepang sendiri menargetkan operasi CCS bisa dimulai pada awal 2030-an, dengan dukungan regulasi seperti CCS Business Act dan penetapan proyek lepas pantai, salah satunya di Tomakomai, Hokkaido. Untuk mewujudkan hal ini, yang dibutuhkan bukan hanya aturan yang jelas, tetapi juga kesepakatan terkait pengangkutan CO2 lintas negara serta solusi atas berbagai tantangan teknis.
"Melalui Asia CCUS Network, Jepang akan terus berbagi pengalaman, memperkuat iklim investasi, dan bekerja sama dengan negara-negara di kawasan untuk mempercepat penerapan CCUS di Asia," jelasnya.
Sebagai informasi, 5th Asia CCUS Network Forum sendiri melibatkan lebih dari 400 peserta dari kalangan pemerintah, industri, dan akademisi di kawasan Asia-Pasifik yang berlangsung pada 10-11 September 2025 di Jakarta. Penyelenggaraan forum ini merupakan kerja sama antara ERIA, Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Kementerian ESDM Indonesia, SKK Migas, serta Indonesia Centre of Excellence for CCS and CCUS.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
