Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 26 Agustus 2025 | 14.53 WIB

Jadi yang Kedua di Dunia setelah Denmark, Jepang Resmikan Pembangkit Listrik Osmotik, Tak Lagi Tergantung Cuaca

Japan’s first osmotic power plant uses the process of osmosis to power a turbine that in turn creates energy. (Photograph: Fukuoka Area Waterworks Agency/the Guardian) - Image

Japan’s first osmotic power plant uses the process of osmosis to power a turbine that in turn creates energy. (Photograph: Fukuoka Area Waterworks Agency/the Guardian)

JawaPos.com – Jepang resmi membuka pembangkit listrik osmotik pertamanya di Kota Fukuoka, bagian barat daya negara itu. Fasilitas ini menjadi pembangkit kedua di dunia yang menggunakan teknologi osmosis sebagai sumber energi. Energi osmotik pertama kali digunakan oleh Denmark.

Energi osmotik merupakan energi yang dihasilkan dari perbedaan kadar garam antara air tawar dan air laut. Dilansir dari The Guardian, Selasa (26/8), pembangkit ini diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 880.000 kilowatt jam listrik (kWh) setiap tahun. Jumlah ini setara dengan kebutuhan listrik sekitar 220 rumah tangga di Jepang.

Ahli sumber energi alternatif dari University of Technology Sydney (UTS) Ali Altaee menyebut energi ini punya keunggulan yang tidak ada di energi terbarukan lainnya. "Energi ini tersedia sepanjang waktu, terlepas dari angin, cuaca, atau kondisi lainnya," ujar Altaee.

Biasanya pembangkit listrik dengan energi terbarukan menggunakan matahari seperti pembangkit tenaga surya. Pembangkit osmotik memanfaatkan prinsip alami osmosis, yaitu pergerakan air dari larutan berkonsentrasi rendah ke tinggi melalui membran semipermeabel.

Di Fukuoka, air tawar yang digunakan adalah air limbah olahan dan air laut diletakkan di kedua sisi membran. Ketika air laut mengalami peningkatan tekanan dan penurunan salinitas, air dialirkan ke turbin yang terhubung ke generator. Kegiatan inilah yang menghasilkan listrik.

Menurut Professor Sandra Kentish dari University of Melbourne, meski konsepnya sederhana, tantangan utama pembangkit osmotik adalah efisiensi energi. Banyak energi yang hilang dalam proses pemompaan dan gesekan di membran.

"Meskipun energi dilepaskan ketika air asin dicampur dengan air tawar, banyak energi yang hilang saat memompa kedua aliran ke pembangkit listrik dan akibat kehilangan gesekan di antara membran. Ini berarti energi bersih yang bisa diperoleh kecil," ujarnya.

Dibandingkan pembangkit di Mariager, Denmark, fasilitas Jepang disebut memiliki ukuran lebih besar dengan kapasitas operasi yang hampir sama. Demonstrasi serupa juga pernah dilakukan di Norwegia dan Korea Selatan.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore