Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Mei 2025 | 04.57 WIB

Menaker Yassierli Tegaskan Hubungan Industrial hanya Bisa Terwujud Lewat Kolaborasi

Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Pertamina, Arie Gumilar, Senin (19/5). (Pertamina/ANTARA) - Image

Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Pertamina, Arie Gumilar, Senin (19/5). (Pertamina/ANTARA)

JawaPos.com - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, hubungan industrial Pancasila berbasis sumber daya manusia (SDM) unggul dan lingkungan kerja yang sehat dapat diwujudkan melalui dialog dan kolaborasi antara perusahaan dengan pekerja serta serikat pekerja di dalamnya.

"Hubungan industrial Pancasila diwujudkan melalui dialog, musyawarah, dan kolaborasi antara serikat pekerja dan manajemen. Ini menjadi kunci kemajuan perusahaan di masa depan," kata Menaker Yassierli dikutip dari Antara, Selasa (20/5).

Salah satu contoh dari upaya ini adalah penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) IX PT Pertamina (Persero), antara manajemen Pertamina dan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) untuk periode 2025–2027. Ia menilai, PKB IX ini merupakan hasil dari proses dialog sosial yang dinamis dan mencerminkan kematangan dalam hubungan kerja.

Menaker Yassierli menambahkan bahwa kedepan, Pertamina harus tampil sebagai garda terdepan dalam pengembangan SDM unggul. Menurut Yassierli, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam hal produktivitas tenaga kerja.

Selama dua dekade terakhir, produktivitas Indonesia stagnan di angka 10 persen dan masih di bawah rata-rata negara ASEAN. Padahal, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, produktivitas nasional harus ditingkatkan hingga 1,7 kali lipat.

"PR besar bagi Pertamina adalah menjadi lokomotif peningkatan produktivitas nasional. Ini harus menjadi tujuan bersama," ujar dia.

Menaker Yassierli juga mengutip sebuah riset yang menyatakan bahwa 50 persen dari skill set yang ada saat ini akan tidak relevan dalam 10 tahun mendatang. Namun, banyak waktu justru masih dihabiskan untuk menghadapi tantangan-tantangan lama, sementara kesiapan menghadapi pekerjaan masa depan (future jobs) yang belum optimal.

"Yang mengkhawatirkan adalah jika kita meninggalkan pekerja kita tanpa bekal keterampilan yang relevan. Saat itu terjadi, justru tenaga kerja asing yang siap mengambil peran," katanya.

Menaker Yassierli juga mengajak serikat pekerja untuk bergerak lebih jauh dari sekadar memperjuangkan isu-isu normatif. Ia mengacu pada teori motivasi Herzberg yang membagi faktor kerja menjadi dua dimensi, yakni hygiene factors (faktor higienis) seperti upah dan lingkungan kerja yang sudah banyak dicapai, dan motivating factors (faktor motivasi) yang mendorong pekerja untuk memberi kontribusi terbaik.

"Motivating factors ini hanya bisa tumbuh melalui kolaborasi yang sehat antara manajemen dan serikat pekerja. Dan kunci dari semuanya adalah penguatan SDM," kata Menaker Yassierli.

Dalam kesempatan ini, Presiden FSPPB Arie Gumilar menyampaikan bahwa ditandatanganinya PKB dan Komitmen Hubungan Industrial Pancasila, membuktikan bahwa hubungan industrial di Pertamina sudah terjalin dengan baik, harmonis dan dinamis. Ia juga berharap dengan adanya PKB yang sudah disepakati ini, akan menjadi integrator dari adanya pemisahan unit-unit bisnis (Holding Subholding) di Pertamina.

"Kami masih terus berjuang agar bagaimana kedepannya Pertamina bisa kembali terintegrasi dan betul-betul menjadi soko guru perekonomian, soko guru kemandirian energi Indonesia yang berada di bawah pimpinan langsung Presiden RI, Bapak Prabowo," ungkap Arie.

Dia menambahkan, penandatanganan PKB ini menjadi bukti bahwa semua pekerja di Pertamina tidak sekadar menuntut hak, tetapi juga memberikan kontribusi sebagai mitra strategis bagi perusahaan, bagi direksi, dan bagi manajemen untuk memberikan kontribusi maksimal bagi keberlangsungan proses bisnis perusahaan. "Juga kepada kepentingan bangsa dan negara, sebagaimana amanat UUD 45 Pasal 33 Ayat (3) dan Ayat (2)," jelas Arie.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri melihat, PKB bukan hanya dokumen formal, melainkan wujud nyata dan komitmen bersama, untuk membangun hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan. "Pada kesempatan hari ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam perundingan ini, suatu perundingan yang panjang,  perundingan yang dilakukan dengan suasana terbuka, kolaboratif dan semangat untuk membawa kemajuan bagi Pertamina," kata Simon.

Simon menambahkan bahwa peran pekerja adalah jantung dan pusat dari operasional yang berlangsung di perusahaan. "Perusahaan tidak bisa berhasil dan sukses tanpa kehadiran dan kontribusi para pekerja. Kami juga sangat menyambut baik atas segala usulan, gagasan, ataupun inisiatif-inisiatif yang dihasilkan atau yang muncul dari para pekerjaan, karena  pekerja adalah pihak yang dari awal yang terus mengawal pertumbuhan yang terus mengawal peran serta kontribusi penting Pertamina bagi bangsa ini," tuturnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore