Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Desember 2024 | 00.09 WIB

Outlook Sektor Minerba Tahun 2025: Akhir Berkah Komoditas dan Dampak dari Transisi Energi Global

Ilustrasi emas Antam - Image

Ilustrasi emas Antam

 
JawaPos.com - Industri pertambangan cukup memberikan pemasukan bagi penerimaan negara. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut total kontribusi sektor mineral dan batu bara (minerba) terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terus mengalami peningkatan signifikan.

Realisasi PNBP sektor ESDM tahun 2023 mencapai Rp 300,3 triliun, setara 116 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp 254 triliun. Dari total tersebut, sumbangsih minerba mendominasi (58 persen) sebesar Rp 172,96 triliun, setara 118,41 persen dari target yang telah ditetapkan sebesar Rp 146,07 triliun.

Fluktuasi harga komoditas mineral merupakan faktor utama yang mendorong peningkatan PNBP minerba tahun 2023. Misalnya trend harga penjualan batu bara tahun 2021 sebesar USD 121,47 per ton, tahun 2022 sebesar USD 276,58 per ton, dan tahun 2023 mencapai rata-rata USD 201,49 per ton, sebagaimana dikutip dari laman Kementerian ESDM, Jumat (27/12).

Selain peningkatan harga komoditas mineral, peningkatan produksi dan penjualan komoditas mineral turut mendorong peningkatan PNBP minerba tahun 2023. Pada tahun 2023, produksi batu bara mencapai 775,2 juta ton, produksi nikel mencapai 71,4 ribu ton, dan produksi ferronickel mencapai 535,2 ribu ton.

Sementara itu, produksi emas mencapai 83 ton, perak mencapai 348,6 ton, dan timah mencapai 67.600 ton. Jika dibandingkan 10 tahun silam atau tahun 2014, kinerja sektor minerba tersebut bisa dibilang melesat. Sebab pada 2014 lalu, kontribusi sektor minerba terhadap PNBP hanya di kisaran Rp 29 triliun.

Sayangnya, era berkah komoditas (windfall) tampaknya berakhir mulai awal 2024, tecermin dari penurunan harga batu bara. Dalam Laporan APBN Kita yang dirilis November 2024, disebutkan bahwa harga batu bara masih mengalami moderasi sejak awal tahun hingga Oktober 2024 imbas eskalasi di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran dampak yang lebih luas terhadap perekonomian global.

Penurunan lifting migas serta pelemahan tajam Harga Batubara Acuan (HBA) menjadi faktor dominan yang menekan pencapaian PNBP periode Januari-Oktober 2024. PNBP sektor minerba hingga 31 Oktober 2024 tercatat sebesar Rp 89,73 triliun, setara 104,53 persen dari target yang sebesar Rp 85,84 triliun.

Kendati melampaui target APBN 2024, akan tetapi realisasi PNBP sektor minerba per 31 Oktober 2024 tersebut masih lebih rendah dibandingkan capaian per 31 Oktober 2023 yang sebesar Rp 110,19 triliun, atau mengalami penurunan 18,57 persen. Penurunan harga komoditas minerba di pasar internasional menjadi salah satu faktor pendorongnya. Rata-rata HBA bulan Januari sampai dengan Oktober 2024 terkontraksi 52,31 persen year-on-year (YoY).

Lalu, seperti apakah outlook sektor minerba atau industri pertambangan tahun 2025 mendatang?

Bank Dunia dalam laporan yang dirilis November 2024, memperkirakan harga komoditas mengalami penurunan 5 persen pada 2025 dan 2 persen pada 2026, setelah penurunan 3 persen tahun ini. Akibatnya, indeks harga komoditas agregat Bank Dunia diproyeksikan mencapai level terendah sejak 2020.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa melihat ada tiga faktor yang memengaruhi harga komoditas minerba, terutama batu bara, pada tahun depan. Pertama, pertumbuhan ekonomi global yang masih mengalami stagnasi di kisaran 3 persen, berdasarkan proyeksi Bank Dunia dan IMF. Biasanya, kata Faby, ketika aktivitas ekonomi lesu, maka permintaan energi pun turun.
 
Baca Juga: PIER Rilis Outlook Ekonomi Indonesia 2025, Tiga Tantangan Global ini Signifikan Dampaknya

Kedua, negara-negara produsen batu bara yang selama ini juga menjadi importir, Tiongkok dan India, diperkirakan akan meningkatkan produksi batu bara domestik mereka, alias mengurangi impor. Konsumsi batu bara Tiongkok bahkan diperkirakan sudah mencapai puncaknya pada tahun ini, tecermin dari berkurangnya penggunaan batu bara di PLTU. Jika pada tahun-tahun sebelumnya bauran batu bara pada PLTU Tiongkok di atas 60 persen, mulai tahun 2024 ini sudah di kisaran 55-56 persen.

Ketiga, relatif stabilnya harga energi fosil lain yaitu minyak mentah sepanjang 2024, dan kemungkinan pada tahun depan. "Biasanya di pasar, harga energi fosil itu mengikuti, karena sifatnya substitusi. Jadi, kalau harga minyak mentah sama dan bahkan turun, ya faktor yang kemudian bisa membuat batu bara naik praktis tidak ada," ungkap Fabby dihubungi JawaPos.com, Jumat malam.

Sementara itu, Fabby menegaskan sulit untuk memperkirakan rata-rata HBA tahun depan. Namun, jika Bank Dunia memproyeksikan 12 persen lebih rendah dari tahun ini, menurutnya bisa jadi demikian. "Penurunan kontribusinya terhadap PNBP akan tergantung sampai pada harga berapa, karena harganya itu bisa rata-rata USD 100-USD 110 per ton, tapi bisa juga anjlok ke USD 80 misalnya. Masih banyak faktor," kata Fabby.

Menurutnya, ada banyak faktor di luar market yang memengaruhi harga batu bara, misalnya adanya La Nina. Kalau misalnya terjadi gangguan produksi batu bara di Indonesia atau Tiongkok karena faktor cuaca, itu juga bisa membuat harga batu bara naik meskipun sifatnya temporer.

Senada Fabby, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira mengatakan, permintaan batu bara dari Tiongkok cenderung melemah karena pertumbuhan sektor industri dan konstruksi sedang terganggu. Di sisi lain, percepatan transisi energi juga memberikan tekanan pada harga batu bara. Tiongkok terus mengembangkan panel surya dan tenaga air untuk beralih dari batu bara.

"Outlook harga komoditas tambang diproyeksi alami stagnasi tahun depan. Contohnya, harga batu bara di pasar spot internasional akan bergerak di rentang USD 100-USD 127 per ton. Artinya tidak berubah dibandingkan posisi di akhir 2024," kata Bhima kepada JawaPos.com, Jumat malam.

Sementara itu, untuk komoditas nikel, Bhima menyebut lebih dipengaruhi oleh pasokan yang berlimpah. Akibatnya, harga di pasar internasional masih menurun. Saat ini, harga nikel masih terpantau turun di pasar spot sebesar -7,2 persen YoY.

"Tahun depan harga nikel berkisar USD 13.000-14.000 per ton, atau kembali ke posisi pandemi 2020," imbuhnya.

Permintaan nikel dipengaruhi oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang menghambat ekspor kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) Tiongkok ke AS. Meningkatnya standarisasi lingkungan di negara tujuan ekspor juga berpengaruh pada permintaan nikel olahan dari Indonesia.

"Belum banyak perusahaan smelter nikel yang memenuhi traceability, ESG, dan standar seperti IRMA," lanjut Bhima.
 

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 9 dan 10 di Suralaya, Banten. (Istimewa)



Di sisi lain, komoditas emas akan bersinar pada 2025 sebagai aset safe haven di tengah bergejolaknya perang dagang, ketidakpastian suku bunga Fed, hingga risiko geopolitik yang meningkat. Bank sentral di berbagai negara khususnya Tiongkok tengah berburu emas untuk menurunkan ketergantungan pada dolar AS.

"Permintaan emas dari dalam negeri juga dipengaruhi berlanjutnya pelemahan daya beli dan kebijakan PPN 12 persen, sehingga kelas menengah atas mencari aset yang aman untuk jangka menengah. Harga emas Antam misalnya diperkirakan tembus Rp 1,7-Rp 2 juta per gram tahun depan," jelas Bhima.

Lantas, dengan proyeksi perkembangan komoditas minerba di atas, apa yang mesti diantisipasi oleh pemerintah?

Menurut Fabby, ada tiga hal yang perlu dilakukan pemerintah. Pertama, dalam jangka menengah 5-10 tahun mendatang, pemerintah perlu mengantisipasi penurunan drastis ekspor batu bara hingga 2030. Ekspor batu bara bisa jadi telah mencapai puncaknya 2023, selanjutnya pada 2024 dan tahun-tahun berikutnya akan terus turun.

"Ada dua faktor penyebab penurunan. Pertama, India dan China yang merupakan tujuan ekspor batu bara Indonesia (60 persen), mereka sudah menetapkan peningkatan produksi batu bara domestik dalam rangka mengurangi impor. Mereka juga sudah mulai melakukan transisi energi. Kedua, India juga menjelang 2030 mereka punya target 400 GW energi terbarukan, dan ini akan membuat impor batu bara India berkurang," terang Fabby.

Kedua, lanjut Fabby, pemerintah diminta lebih realistis memasang target produksi dan target ekspor minerba, supaya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang tidak eksesif tapi realisasinya jauh dari ekspektasi.

Ketiga, pemerintah diharap mulai rasional terhadap penerimaan batu bara, yang kecenderungannya menurun dalam lima tahun ke depan. Khususnya pemerintah daerah, yang beberapa, masih sangat tergantung pada penerimaan dari batu bara.

"Bagi mereka penurunan batu bara baik harga maupun volume itu akan berdampak besar terhadap kapasitas fiskalnya nanti. Menurut saya ini yang mesti menjadi perhatian pemerintah, karena daerah-daerah itu ya punya masalah juga dengan kemiskinan. Ini yang harus diantisipasi pemerintah," katanya.

Sementara itu, ketika ditanya perihal hilirisasi batu bara, Fabby menilai jika opsi pemerintah membuat Dimetil Eter (DME), maka hal itu menurutnya tidak ekonomis. Apalagi selain mahal, produksi DME menimbulkan polusi dan emisi gas rumah kaca (GRK) yang semestinya justru dihindari.

"Saya lebih menyarankan kalau kita masih punya cadangan batu bara mulai dialihkan untuk dikembangkan menjadi Advanced Carbon Materials, yang sebenarnya nilai tambahnya tinggi dan ini dibutuhkan oleh teknologi untuk mendukung transisi energi, misalnya baterai, otomotif, dan sebagainya," saran Fabby.

 

Ilustrasi. Produksi batu bara PTBA.



Sementara itu berdasarkan Buku II Nota Keuangan Beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2025, PNBP sektor minerba diproyeksikan sebesar Rp 87,48 triliun atau terkontraksi 14,3 persen dari outlook tahun 2024. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh trend pergerakan harga minerba di pasar internasional.

Dalam upaya mencapai target tersebut, pemerintah di bawah komando Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka akan melakukan beberapa kebijakan. Pertama, meningkatkan kerja sama antar-instansi terkait, antara lain audit kewajiban PNBP SDA Minerba, kerja sama informasi data ekspor minerba, bimbingan dan pengawasan terhadap pemegang IUP Minerba.

Kedua, mengoptimalisasi pengelolaan batu bara agar memperoleh pendapatan yang lebih optimal. Ketiga, mengimplementasikan Automatic Blocking System (ABS) dalam rangka optimalisasi penagihan piutang PNBP sektor minerba.

Keempat, memanfaatkan Sistem Informasi Mineral dan Batubara antar K/L (SIMBARA) dengan lebih optimal dalam rangka efektivitas pengawasan dan peningkatan kepatuhan Wajib Bayar, serta tata Kelola hulu-hilir yang lebih baik. Kelima, memberikan bimbingan teknis kepada perusahaan minerba serta Pemda terkait tata cara pemungutan, perhitungan, dan pembayaran PNBP minerba.

Keenam, diseminasi dan penguatan implementasi peraturan baru sektor minerba seperti PP Nomor 26 Tahun 2022 tentang Jenis dan Tarif atas PNBP yang berlaku, PP Nomor 15 Tahun 2022 tentang Perlakuan Perpajakan dan/atau PNBP di Bidang Usaha Pertambangan Batubara. Terakhir, memberikan sanksi atas ketidakpatuhan terhadap pemenuhan DMO batu bara dan atas pemenuhan target komitmen pembangunan smelter.

 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore