JawaPos Radar

Nasabah Loyalis Bank Syariah Baru 20 Persen

19/07/2016, 02:16 WIB | Editor: Ilham Safutra
Nasabah Loyalis Bank Syariah Baru 20 Persen
BNI Syariah (SATRIA NUGRAHA/RADAR SURABAYA/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Industri keuangan syariah belum menunjukan progres yang menggembirakan. Market share yang diharapkan dapat melewati di atas angka 5 persen belum kunjung tercapai.

Bahkan dari nasabah yang ada, baru 20 persen nasabah yang benar-benar memilih bank syariah untuk tempat pengelolaan keuangannya.

Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono menyebutkan, saat ini nasabah bank syariah di Indonesia terdiri atas syariah loyalis dan floating nasabah.

Syariah loyalis adalah nasabah yang memilih bank syariah terlepas dari apa pun pertimbangannya semata-mata karena pertimbangan keyakinan. Jumlahnya baru mencapai 20 persen.

Sementara sisanya atau sekitar 80 persen sendiri bisa disebut sebagai floating nasabah, yaitu mereka yang memilih bank syariah karena memiliki benefit yang lebih baik.

"Prinsip dan nilai dari bank syariah harus kembali kepada kaidah Alquran dalam pengembangan ekonomi syariah," ungkap Imam Teguh Saptono yang dilansri Indopos (Jawa Pos Group), Selasa (19/7).

Saat ini, lanjut Imam, mayoritas umat muslim tidak membuat bank syariah menjadi hebat. Padahal yang menjadikan hebat dari bank syariah atau ekonomi adalah prinsip dan nilainya yang berdasarkan Alquran.

Berdasarkan data OJK, hingga Maret 2016, aset perbankan dan industri keuangan nonbank (IKNB) syariah mencapai Rp 359 triliun dengan rincian perbankan syariah Rp 290 triliun dan IKNB syariah Rp 69 triliun. Sedangkan sukuk negara telah mencapai Rp 376 triliun.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Otoritas Jasa Keuangan Sarjito mengakui bahwa belum ada insentif yang sangat nyata terhadap industri keuangan syariah.

“Makanya OJK berusaha sekali agar ada insentif yang nyata itu karena kami juga berkoordinasi dengan perbankan syariah, pasar modal syariah, dan IKNB syariah dan semuanya tentu saja akan kami kembangkan bersama-sama,” imbuhnya.

Selama ini, lanjut Sarjito, insentif yang diberikan pihaknya adalah berupa kemudahan pungutan murah.

“Insentif-insentif lain sedang kami usahakan. Kami sedang diskusi dengan Kemenkeu mengenai soal perpajakannya dan lain-lain. Kami juga dorong Kementerian BUMN agar anak usuhanya bisa menerbitkan sukuk,” katanya. (ers/iil/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up