Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Oktober 2019 | 05.11 WIB

Gaet Milenial, Ritel Fashion Masih Perlu Gerai Offline

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Pengusaha fashion online semakin serius menggarap milenial sebagai target marketnya. Salah satu caranya yaitu dengan tidak hanya fokus jualan di dunia maya saja, tetapi juga gencar ekspansi buka toko offline demi mendekatkan diri ke konsumen.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jatim Sutandi Purnomosidi mengatakan, pasar fashion saat ini masih sangat menjanjikan. Karena setiap orang butuh pakaian yang stylish demi menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, ada satu hal yang harus dicermati oleh pelaku bisnis agar bisa bertahan di tengah persaingan yang ketat ini. Yaitu terkait karakter konsumen yang telah berubah.

”Kondisi bisnis pakaian sekarang sudah beda. Ada suatu perubahan besar pada pola pasar sehingga ritel konvensional yang sudah ada dan hanya mengandalkan nama besar brandnya harus bersiap-siap untuk menghadapi shifting ini,” urai Sutandi Minggu (27/10).

Menurutnya, saat ini market milenial tidak lagi belanja hanya karena ingin mendapatkan sebuah brand yang prestis. Tetapi, alasan utama mereka shopping sekarang karena ada faktor comfort use. Artinya, pasar anak muda kini merasa nyaman-nyaman saja memakai barang non branded. Asalkan fashionable, comfortable, dan harga kompetitif. ”Hal-hal seperti itu bisa diperoleh dari para pelaku startup yang biasanya memasarkan produk bajunya secara online,” tegas Sutandi.

Meskipun berjualan pakaian via daring sudah sangat menguntungkan, namun menurut Sutandi, pelaku bisnis fashion tetap harus memiliki gerai offline. Yang bisa didatangi konsumen setiap waktu. “Sebab, kalau masyarakat, terutama milenial, beli baju bisa lihat fisiknya langsung dan bisa dicoba pasti mereka akan lebih percaya dan nyaman,” ucap Sutandi.

Oleh karena itu, saat ini sudah mulai banyak perintis-perintis usaha clothing yang berani buka outlet di dalam mal demi mendekatkan diri ke pasar. Contohnya brand This is April, Beatrice, Vondii, the Headline, Love and Flare, Panda box, dan Lovebonito. ”Memang secara persentase perkembangannya belum terlalu signifikan. Namun tren ke arah sana sudah mulai terbaca,” tegas Sutandi.

Demi mengakomodir perkembangan tersebut, pihaknya selaku pengelola mal kini tengah fokus memberikan ruang yang sama kepada pelaku bisnis online untuk membuka gerai di dalam pusat perbelanjaan. ”Manfaatnya besar kalau startup berani buka outlet di mal. Selain bisa membuat pasar mereka berkembang, hal ini juga mampu untuk semakin menggairahkan ritel fashion,” katanya.

Terpisah, Koordinator Lois Jeans Wilayah Jawa Timur Dyah Rudanti mengatakan, toko offline sangat penting untuk menjaga loyalitas konsumen. Sebab, lewat outlet bisa terjadi komunikasi langsung dengan pelanggan. Sehingga mampu memberikan service yang maksimal. ”Makanya kami sekarang lakukan reopening outlet Lois dengan konsep baru agar bisa bersaing dan sekaligus menarik minat konsumen untuk belanja,” jelasnya saat Reopening Showroom Lois Jeans di Tunjungan Plaza Surabaya, Sabtu (26/10).

Dengan konsep baru yang lebih casual dan kekinian, pihaknya optimistis dapat membuat konsumen lebih senang berbelanja. Sehingga penjualan Lois Jeans ditargetkan mampu tumbuh 20 persen sampai akhir tahun 2019. ”New concept yang kami terapkan yaitu simpel dan casual. Kalau konsep yang lama masih berantakan, produk banyak yang distok dan dilipat. Sekarang minimalis dan hampir semua model sudah terdisplay dengan rapi,” ujar Dyah. Di seluruh Indonesia, sudah ada tiga showroom Lois Jeans yang telah dilakukan reopening. Yaitu di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore