
LRT di Palembang yang proses pembangunannya dituding Prabowo Subianto kelewat mahal
JawaPos.com – Tudingan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bahwa pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Indonesia kelewat mahal, bisa jadi blunder. Sebab, data yang disampaikan disebut tidak matang oleh wakil Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Apalagi, menyamakan ongkos pembangunan infrastruktur dari satu negara ke negara lain juga tidak tepat.
Kepastian bahwa ongkos pembangunan LRT, termasuk di Palembang masih dalam taraf wajar disampaikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) LRT Palembang dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub), Suranto. Kepada JawaPos.com, dia menyebut tudingan Prabowo tidak tepat. Termasuk, soal dugaan mark up proyek sampai 500 persen.
"Ah nggak bener itu," kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) LRT Palembang dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub), Suranto saat dikonfirmasi JawaPos.com, Jumat (22/6). Prabowo menyebut indeks termahal LRT di dunia adalah USD 8 juta per km atau sekitar Rp 112 miliar.
Ditegaskannya, berdasarkan data yang dimilikinya bahwa pembangunan LRT di Palembang sudah termasuk termurah. Karena biaya yang dikeluarkan untuk 24 kilometer hanya Rp 10,9 triliun, mengingat telah dilakukan pemotongan oleh Kementrian Keuangan (Kemenkeu) RI dari semula yakni sebesar Rp 12,5 triliun (kurs USD 1 adalah Rp 14.000).
"Pembangunan LRT Palembang itu termurah karena sudah pajak, bunga, dan lain sebagainya," urainya. Ada komponen bunga karena pembangunan LRT tidak menggunakan uang muka. Itu berarti kontraktor harus menggunakan uangnya sendiri dengan cara meminjam dari bank.
Ucapan kontroversial Prabowo Subianto saat menyebut mahalnya ongkos pembangunan LRT bukan tanpa dasar. Adalah sosok Gubernur DKI Anies Baswedan yang disebut berada di balik pemberian data itu. Dia menyebut kalau data yang disampaikan ke Prabowo bisa menjadi pemantik untuk memenuhi kepentingan masyarakat atas pembiayaan proyek yang efektif dan efisien.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu meminta kepada media untuk melakukan validasi. "Tugas jurnalistik adalah melakukan verifikasi, melakukan validasi. Jadi malah saya anjurkan kepada teman-teman media, statement Pak Prabowo itu dijadikan pemantik," kata dia.
Anies mengatakan, data anggaran proyek LRT bisa diakses untuk umum. Data bisa dibandingkan dengan data lain di seluruh dunia. Kemudian akan diketahui apakah biaya yang dikeluarkan masih tergolong wajar atau terjadi penggelembungan.
Entah dari mana Anies mendapatkan data itu. Jika dicari di internet tentang ongkos per km adalah USD 8 juta, salah satu informasi yang muncul terdapat di Quora. Tetapi, itu bukan untuk LRT. Disebutkan oleh pengguna bernama Arun M.V, harga per km untuk LRT adalah USD 150 juta (Rp 2,1 triliun), sedangkan angka USD 8 juta untuk BRTS (Bus Rapid Transit System).
Nah, BRTS itulah yang lantas dikembangkan di negara seperti Indonesia, India, atau Brasil. Hingga kini, belum ada penjelasan rinci dari Anies soal dari mana asal-usul informasi itu. Yang pasti, rasanya janggal jika data yang digunakan berasal dari situs berbagi informasi dipakai untuk menuduh adanya mark up.
Lantas, berapa angka ideal untuk pembangunan per km proyek LRT? Tidak ada informasi pasti karena kebutuhan setiap negara berbeda. Sumber lain dari United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (Unescap) punya data berbeda. LRT di Amerika Serikat per km bisa menelan dana USD 21,6 juta atau sekitar Rp 302,4 miliar.
Proyek ekstensi LRT di negara tetangga, Filipina juga lebih mahal dari Indonesia. Mengutip data dari Public Private Partneship-Center Filipina, untuk ekstensi jalur kereta sampai 11,7 kilometer adalah PHP 64,9 miliar atau sekitar Rp 17,1 triliun. Itu berarti, per km proyek esktensi dari Stasiun Baclaran ke Stasiun Niyog setara Rp 1,4 triliun.
Contoh lain adalah pembangunan ekstensi LRT di Malaysia. Dikutip dari thesundaily.my, pada 2016 Malaysia memulai perpanjangan proyek LRT jalur Ampang sepanjang 18,1 kilometer (km) dan jalur Kelana Jaya - Putra Heights sepanjang 17,4 km. Saat itu, Perdana Menteri Najib Rajak menyebut biaya masing-masingnya sebesar RM 10 miliar (sekitar Rp 35 triliun).
Itu artinya, biaya yang dikeluarkan oleh Malaysia untuk setiap km proyek LRT sekitar Rp 1,9 triliun. Penghitungannya, Rp 35 triliun dibagi 18,1 km untuk jalur Ampang. Hasilnya adalah Rp 1,933 triliun per km dengan kurs RM 1 adalah Rp 3.500.
Angka itu masih jauh lebih mahal dari yang disebut Prabowo Subianto soal biaya pembangunan LRT di Indonesia sebesar USD 40 juta atau sekitar Rp 500 miliar per km. Dengan kata lain, pembiayaan infrastruktur tidak bisa dibandingkan apple to apple pada tiap-tiap negara.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
