Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Djati Waluyo
Kamis, 5 November 2026 | 14.49 WIB

Dolar AS Perkasa, Rupiah Diproyeksi Melemah dan Tembus Rp 18.210

Ilustrasi dolas AS dan rupiah Indonesia (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi dolas AS dan rupiah Indonesia (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Kamis (5/11) setelah sebelummya ditutup melemah sebesar 8 poin menjadi Rp 18.168 per USD pada perdagangan Rabu (4/11).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri. "Untuk perdagangan Kamis (5/11) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.160 - Rp 18.210,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima Kamis (5/11).

Ibrahim mengatakan dari sisi eksternal dolar AS mendapatkan dukungan dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan pasar. Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan meningkat menjadi 7,523 juta pada September 2026, dari sebelumnya 7,19 juta.

Angka tersebut juga melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan jumlah lowongan pekerjaan mencapai 7,13 juta. Kondisi ini memperkuat posisi USD di tengah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Sementara dari sisi internal, pelaku pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi kembali melambat dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya suku bunga yang masih membebani biaya pinjaman, sementara tekanan harga kebutuhan pokok turut mengurangi daya beli masyarakat.

Akibatnya, konsumsi rumah tangga dan aktivitas dunia usaha berpotensi mengalami perlambatan. Hal ini menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati prospek perekonomian nasional ke depan.

Selain itu, proyeksi Menteri Keuangan Suahasil Nazara yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,4–5,5 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,6–6 persen turut menjadi perhatian investor.

Penurunan proyeksi tersebut mencerminkan tantangan pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham dan rupiah.

Pasar akan mencermati apakah perlambatan ekonomi hanya bersifat sementara atau mulai menunjukkan pelemahan daya beli, konsumsi masyarakat, dan investasi. Jika pertumbuhan ekonomi terus melambat, tekanan terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor berpotensi meningkat.

Di sisi lain, ketegangan politik turut meningkat setelah tiga perwira tinggi Polri ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat negara, tokoh politik, jurnalis, dan pengusaha.

Editor: Diar Candra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore