
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Jajaran Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2026–2030 mulai merealisasikan sejumlah agenda strategis dalam 100 hari pertama kepemimpinannya.
Langkah tersebut mencakup penguatan integritas dan transparansi pasar, peningkatan likuiditas, perluasan instrumen investasi, hingga pengembangan basis investor.
Berbagai inisiatif yang dilakukan merupakan bagian dari pelaksanaan Master Plan BEI 2026–2030 yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan transparansi pasar, memperdalam likuiditas, serta memperkuat ketahanan dan daya saing Pasar Modal Indonesia.
Pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Eduardus Tandelilin, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan yang ditempuh jajaran Direksi baru sudah berada pada jalur yang tepat.
“Arah kebijakan Direksi baru BEI sudah berada di jalur yang benar karena titik berangkatnya tepat. Yang dibutuhkan pasar saat ini adalah penguatan kredibilitas dan kualitas pasar, dan sejumlah langkah yang dilakukan menunjukkan kesungguhan untuk menjawab kebutuhan tersebut,” ujar Eduardus kepada wartawan dikutip Minggu (11/10).
Dalam 100 hari pertama, BEI juga memperluas pilihan instrumen investasi untuk mendukung diversifikasi dan pengelolaan risiko. Salah satunya melalui peluncuran lima produk exchange-traded fund (ETF) emas dari lima manajer investasi pada 10 Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat menjadi tujuh ETF emas dari tujuh manajer investasi per 8 Oktober 2026.
Baca Juga:Persib Bandung Hadapi Dewa United, Jadwal Padat dan Cedera Pemain Jadi Tantangan Igor Tolic
Pengembangan alternatif strategi transaksi bagi investor turut diperkuat melalui mekanisme Intraday Short Selling (IDSS), yang mulai dapat dilakukan sejak 1 Oktober 2026. Pada tahap awal, mekanisme tersebut didukung dua Anggota Bursa dengan lima saham sebagai aset dasar (underlying).
Sejak mulai diperdagangkan hingga 8 Oktober 2026, BEI mencatat nilai transaksi short selling rata-rata mencapai Rp 1,68 miliar per hari.
Eduardus menilai, diversifikasi instrumen dan penambahan alternatif strategi investasi merupakan bagian penting dari upaya memperdalam pasar modal.
“Pasar yang semakin dalam membutuhkan lebih banyak cara bagi investor untuk mengambil posisi, melakukan diversifikasi dan melakukan lindung nilai. Kehadiran ETF Emas dan short selling menunjukkan bahwa Pasar Modal Indonesia mulai bergerak ke arah ekosistem yang lebih lengkap,” ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri
Prediksi Al Ittihad vs Al Ain di ACL Elite, Tuan Rumah Lebih Diunggulkan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022