
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Setelah pasar mendapat kejutan dari data tenaga kerja AS yang jauh lebih lemah dari ekspektasi, perhatian pasar saham pada pekan ini akan beralih kepada FOMC Minutes dan rangkaian komentar pejabat The Fed untuk mencari tahu apakah pelemahan pasar tenaga kerja cukup kuat untuk mengubah sikap bank sentral atau justru kekhawatiran inflasi masih menjadi prioritas.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan konteks tersebut cukup penting mengingat Payrolls AS September hanya bertambah 29 ribu atau jauh di bawah konsensus sekitar 90 ribu, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2% dari 4,1% dan pertumbuhan upah tahunan melambat menjadi 3,0%.
“Data ini langsung menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober. Namun, pasar belum bisa sepenuhnya bernapas lega karena pada saat yang sama yield US Treasury 10 tahun sempat menembus 5,34%, level tertinggi sejak 2002,“ tegasnya.
Perhatian utama pasar pekan ini (5-9 Oktober 2026), imbuhnya, tertuju pada rilis FOMC Minutes pada Rabu, 7 Oktober yang akan membeberkan perdebatan internal The Fed saat menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 3,75%–4,00% pada September lalu.
Meskipun 16 dari 18 pembuat kebijakan sempat memproyeksikan satu kenaikan lagi hingga akhir 2026, fokus investor kini beralih pada cara The Fed menimbang dilema antara data payroll September yang melemah dengan risiko inflasi dan harga energi yang belum mereda.
Arah kebijakan dalam FOMC Minutes ini akan menentukan pergerakan aset berisiko dan pasar berkembang (emerging markets). Jika FOMC Minutes menunjukkan inflasi masih dianggap sebagai risiko utama yang memerlukan pengetatan lanjutan, yield Treasury berpotensi naik dan menekan pasar.
Sebaliknya, jika kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja lebih dominan, ekspektasi penundaan kenaikan suku bunga akan menguat, memberikan sentimen positif bagi saham dan emerging markets melalui penurunan yield serta pelemahan dolar.
Dari global, investor tentu saja juga menantikan data ADP Employment Change Weekly pada hari Selasa untuk memantau apakah perlambatan perekrutan masih berlanjut pasca-laporan payroll September yang mengecewakan. Walaupun ADP memiliki metodologi berbeda dan bukan pengganti Non-Farm Payrolls (NFP), angka ADP yang lemah akan memperkuat keyakinan bahwa pasar tenaga kerja mendingin, sementara angka yang kuat berpotensi memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Sementara itu dari domestik, Foreign Exchange Reserves menjadi salah satu data penting yang perlu dipantau karena kondisi eksternal Indonesia sedang menghadapi kombinasi yang tidak mudah, yield US Treasury tinggi, dolar AS kuat, dan ketidakpastian geopolitik masih tinggi. Saat ini posisi cadangan devisa indonesia setara dengan 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022