Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Oktober 2026 | 15.25 WIB

Waspadai Sentimen FOMC Minutes dan The Fed Pekan Ini, IPOT Jagokan PTRO, MDKA, PTBA dan FR0100

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Setelah pasar mendapat kejutan dari data tenaga kerja AS yang jauh lebih lemah dari ekspektasi, perhatian pasar saham pada pekan ini akan beralih kepada FOMC Minutes dan rangkaian komentar pejabat The Fed untuk mencari tahu apakah pelemahan pasar tenaga kerja cukup kuat untuk mengubah sikap bank sentral atau justru kekhawatiran inflasi masih menjadi prioritas.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan konteks tersebut cukup penting mengingat Payrolls AS September hanya bertambah 29 ribu atau jauh di bawah konsensus sekitar 90 ribu, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2% dari 4,1% dan pertumbuhan upah tahunan melambat menjadi 3,0%.

“Data ini langsung menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober. Namun, pasar belum bisa sepenuhnya bernapas lega karena pada saat yang sama yield US Treasury 10 tahun sempat menembus 5,34%, level tertinggi sejak 2002,“ tegasnya.

Perhatian utama pasar pekan ini (5-9 Oktober 2026), imbuhnya, tertuju pada rilis FOMC Minutes pada Rabu, 7 Oktober yang akan membeberkan perdebatan internal The Fed saat menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 3,75%–4,00% pada September lalu. 

Meskipun 16 dari 18 pembuat kebijakan sempat memproyeksikan satu kenaikan lagi hingga akhir 2026, fokus investor kini beralih pada cara The Fed menimbang dilema antara data payroll September yang melemah dengan risiko inflasi dan harga energi yang belum mereda.

Arah kebijakan dalam FOMC Minutes ini akan menentukan pergerakan aset berisiko dan pasar berkembang (emerging markets). Jika FOMC Minutes  menunjukkan inflasi masih dianggap sebagai risiko utama yang memerlukan pengetatan lanjutan, yield Treasury berpotensi naik dan menekan pasar. 

Sebaliknya, jika kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja lebih dominan, ekspektasi penundaan kenaikan suku bunga akan menguat, memberikan sentimen positif bagi saham dan emerging markets melalui penurunan yield serta pelemahan dolar.

Dari global, investor tentu saja juga menantikan data ADP Employment Change Weekly pada hari Selasa untuk memantau apakah perlambatan perekrutan masih berlanjut pasca-laporan payroll September yang mengecewakan. Walaupun ADP memiliki metodologi berbeda dan bukan pengganti Non-Farm Payrolls (NFP), angka ADP yang lemah akan memperkuat keyakinan bahwa pasar tenaga kerja mendingin, sementara angka yang kuat berpotensi memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Sementara itu dari domestik, Foreign Exchange Reserves menjadi salah satu data penting yang perlu dipantau karena kondisi eksternal Indonesia sedang menghadapi kombinasi yang tidak mudah, yield US Treasury tinggi, dolar AS kuat, dan ketidakpastian geopolitik masih tinggi. Saat ini posisi cadangan devisa indonesia setara dengan 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore