
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, memberikan sambutan sebelum kegiatan pembagian bansos di Masjid Babah Alun, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
JawaPos.com - Kebijakan pemerintah yang memberikan bantuan sosial (bansos) berupa sembako dapat disalahgunakan. Bansos kemudian menjadi alat politik dalam menarik suara masyarakat.
Pandangan itu diungkapkan ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Media Wahyudi Askar. Media menilai bantuan sosial dalam bentuk sembako tidak memberikan dampak signifikan terhadap pengentasan kemiskinan. Selain itu, bansos dalam bentuk barang tersebut juga kerap kali dimanfaatkan sebagai alat politik untuk menunjukkan seolah-olah bantuan diberikan langsung oleh politikus.
“Intervensi sembako, beras, itu gimik politisi. Hentikan saja bantuan sosial yang aneh-aneh itu,” ujar Media dalam dialog di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jakarta pada Minggu (13/9).
Media mengatakan bantuan dalam bentuk uang yang disalurkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ke kantong masyarakat lebih memberikan dampak untuk mengentas kemiskinan.
Menurutnya, salah satu program yang dapat didorong untuk mengentaskan kemiskinan adalah Program Keluarga Harapan (PKH).“PKH adalah program yang paling kuat dampaknya terhadap pengurangan kemiskinan, itu fakta,” ujarnya.
Meski begitu, ia menyoroti tidak adanya peningkatan yang signifikan daripada penerima PKH. Menurutnya, kondisi tersebut sangat disayangkan terjadi pada program yang memiliki dampak cukup signifikan.“How come, program yang powerfull budgetnya tidak mengalami peningkatan yang signifikan,” ucapnya.
Media juga menyoroti penerapan desil dalam penyaluran bantuan sosial. Menurutnya, program seperti PKH tidak dapat disamakan dengan bantuan untuk memenuhi akses kesehatan maupun pendidikan.
Ia menilai penggunaan desil secara menyeluruh, terutama dengan mengelompokkan penerima berdasarkan desil 1 hingga 4, berpotensi tidak tepat sasaran karena setiap keluarga memiliki kebutuhan yang berbeda.
Menurutnya, terdapat keluarga yang sangat membutuhkan bantuan dalam bentuk uang tunai, tetapi belum membutuhkan akses pendidikan. Sebaliknya, ada pula keluarga yang sudah mampu memenuhi kebutuhan pangan, tetapi masih membutuhkan akses pendidikan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022