Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2026 | 20.02 WIB

Asuransi Astra Kembangkan AI untuk Deteksi Fraud, Ditargetkan Otomatis Tanpa Verifikasi

President Director Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus. (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

President Director Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Asuransi Astra tengah mengembangkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk membantu mendeteksi potensi fraud dalam proses klaim. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengotomatisasi proses asuransi dengan mengurangi kebutuhan intervensi manusia.

President Director Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, menjelaskan bahwa pemanfaatan AI saat ini juga diarahkan untuk proses klaim kesehatan. Teknologi tersebut dikembangkan untuk memeriksa data klaim yang masuk dan mencocokkannya dengan riwayat klaim sebelumnya.

"Ngomong-ngomong di MyGarda untuk health ya, itu Garda Medika, itu klaim bisa dilakukan secara online, secara lewat aplikasi, di-upload dokumennya. Nah, itu juga bisa di-check, dan kita sedang kembangkan AI-nya untuk mendeteksi adanya fraud," kata Maximilianan dalam acara Asuransi Astra ‘Transformation Beyond the Screen” di Jakarta, Jumat (11/9).

Menurutnya, AI nantinya dapat membantu mengidentifikasi indikasi klaim yang memiliki kesamaan dengan pengajuan sebelumnya. Pemeriksaan tersebut mencakup sejumlah informasi dalam klaim, seperti jumlah dan tanggal pengajuan.

"Apakah jumlah yang sama, tanggal yang sama, sudah pernah diklaim kan pada masa yang lalu. Jadi tanpa harus mata manusia melihatnya. Nah, kita sedang mengembangkan ke arah sana," ujarnya.

Pengembangan AI tersebut juga berkaitan dengan upaya Asuransi Astra memperluas otomatisasi dalam proses bisnisnya. Sebelumnya, teknologi artificial intelligence dan Optical Character Recognition (OCR) telah digunakan dalam proses penutupan asuransi kendaraan bermotor melalui GardaOto.com.

Max mencontohkan, teknologi OCR dapat mengekstrak informasi dari KTP dan STNK. Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam database sehingga proses yang sebelumnya membutuhkan 16 langkah dapat direduksi menjadi dua langkah.

"Harapan kita adalah bahwa dengan penggunaan AI ini, penggunaan OCR ini, sebagian besar dari proses kita akan strike through proses. Kita harapkan 70-80 persen itu akan diproses tanpa human intervention," jelasnya.

Sementara proses yang tidak memenuhi parameter otomatisasi akan tetap diperiksa oleh manusia. "Hanya yang tidak memenuhi itu yang akan keluar dari proses, kemudian mata kita lihat ke sana," lanjut Maximilianan.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore