Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 September 2026 | 14.32 WIB

Eskalasi Konflik Selat Hormuz dan Data Tenaga Kerja AS Bayangi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah dan menguat pada perdagangan Senin (7/9), setelah sebelummya ditutup menguat 37 poin menjadi Rp 17.642 per dollar AS pada perdagangan Jumat (4/9).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar negeri.

"Untuk perdagangan (7/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.640-Rp 17.690," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Senin (7/9).

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi perhatian pelaku pasar, terutama eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Memanasnya konflik terjadi setelah AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target Iran, termasuk aset militer di sekitar Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) terhadap posisi AS dan sekutunya di kawasan Teluk.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang paling dicermati pasar karena merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak global. Pembatasan pelayaran di kawasan tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan dan kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah karena kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi. Di sisi lain, meningkatnya ketidakpastian geopolitik juga dapat mendorong investor meningkatkan kepemilikan aset safe haven, terutama dolar AS.

Selain geopolitik, arah kebijakan moneter AS masih menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah. Sebelumnya, pernyataan Gubernur The Federal Reserve Christopher Waller yang bernada dovish sempat memberikan sentimen positif bagi pasar karena membuka peluang penurunan suku bunga pada September.

Waller mengatakan dirinya melihat sejumlah tanda disinflasi dalam data terbaru. Namun, keputusan suku bunga pada September masih akan bergantung pada perkembangan inflasi Agustus.

Sentimen tersebut kemudian mendapat pembaruan setelah data ketenagakerjaan AS dirilis pada Jumat (4/9). Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan nonfarm payrolls meningkat 162.000 pada Agustus, jauh di atas ekspektasi pasar sekitar 56.000. Sementara itu, tingkat pengangguran tetap berada di level 4,1 persen.

Editor: Edy Pramana
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore