Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 September 2026 | 20.34 WIB

Rocky Gerung: Intervensi Tak Berbahaya bagi Pasar, tapi Kapitalisme itu Kerakusan

Talkshow Economic Frontline bertajuk From State Capitalism to Welfare State: Is Indonesia Moving Toward a New Economic Model? yang digelar di Javarock Kemang, Kamis (3/9). (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Talkshow Economic Frontline bertajuk From State Capitalism to Welfare State: Is Indonesia Moving Toward a New Economic Model? yang digelar di Javarock Kemang, Kamis (3/9). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Peran pemerintah dalam perekonomian tengah menjadi perhatian seiring perubahan kondisi ekonomi global. Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menilai keterlibatan negara yang lebih besar tidak otomatis mengancam keberadaan mekanisme pasar.

Rocky berpandangan, intervensi pemerintah bukan sekadar pilihan yang dibuat oleh seorang presiden. Menurutnya, negara memang memiliki kewajiban untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Karena itu, ketika kondisi dunia berubah, Indonesia memiliki momentum untuk kembali menjalankan amanat konstitusi, khususnya dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Rocky dalam talkshow Economic Frontline bertajuk From State Capitalism to Welfare State: Is Indonesia Moving Toward a New Economic Model? yang digelar di Javarock Kemang, Kamis (3/9).

“Jadi saya mau tegaskan kepada publik bahwa intervensi negara itu bukan keinginan Presiden, itu perintah ideal konstitusi. Apakah berbahaya bagi pasar? Tidak. Karena dalam ekonomi sosialis, tetap dibutuhkan pasar, fungsinya untuk menghitung efisiensi. Sementara kapitalisme adalah kerakusan, itu bedanya,” tegas Rocky.

Diskusi tersebut membahas perubahan posisi negara dalam perekonomian, terutama ketika negara-negara menghadapi pergeseran dari era globalisasi menuju deglobalisasi. Dalam situasi tersebut, Indonesia sebagai negara middle power dinilai perlu menentukan strategi agar mampu menghadapi perubahan lingkungan ekonomi dunia.

Host sekaligus Inisiator Economic Frontline, Harryadin Mahardika mengatakan penguatan peran negara menjadi salah satu isu yang tidak bisa dilepaskan dari perubahan tersebut. Ia mempertanyakan apakah Indonesia sedang bergerak menuju model ekonomi baru dengan keterlibatan pemerintah yang semakin besar.

Harryadin juga membandingkan perkembangan pendapatan dan biaya rumah tangga di Amerika Serikat dengan Tiongkok sepanjang 2000-2025. Ia menyebut pertumbuhan gaji di Amerika Serikat selama periode tersebut berada di kisaran 90 persen, sedangkan kenaikan biaya rumah tangga mencapai sekitar 80-90 persen.

Sementara di Tiongkok, pertumbuhan gaji disebut mencapai sekitar 1.300 persen dalam 25 tahun. Pada periode yang sama, pertumbuhan biaya rumah tangga berada di kisaran 80-90 persen.

“Jadi ada gap yang luar biasa yang menciptakan kesejahteraan,” jelasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore