
Talkshow Economic Frontline bertajuk From State Capitalism to Welfare State: Is Indonesia Moving Toward a New Economic Model? yang digelar di Javarock Kemang, Kamis (3/9). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Peran pemerintah dalam perekonomian tengah menjadi perhatian seiring perubahan kondisi ekonomi global. Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menilai keterlibatan negara yang lebih besar tidak otomatis mengancam keberadaan mekanisme pasar.
Rocky berpandangan, intervensi pemerintah bukan sekadar pilihan yang dibuat oleh seorang presiden. Menurutnya, negara memang memiliki kewajiban untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, ketika kondisi dunia berubah, Indonesia memiliki momentum untuk kembali menjalankan amanat konstitusi, khususnya dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Rocky dalam talkshow Economic Frontline bertajuk From State Capitalism to Welfare State: Is Indonesia Moving Toward a New Economic Model? yang digelar di Javarock Kemang, Kamis (3/9).
“Jadi saya mau tegaskan kepada publik bahwa intervensi negara itu bukan keinginan Presiden, itu perintah ideal konstitusi. Apakah berbahaya bagi pasar? Tidak. Karena dalam ekonomi sosialis, tetap dibutuhkan pasar, fungsinya untuk menghitung efisiensi. Sementara kapitalisme adalah kerakusan, itu bedanya,” tegas Rocky.
Diskusi tersebut membahas perubahan posisi negara dalam perekonomian, terutama ketika negara-negara menghadapi pergeseran dari era globalisasi menuju deglobalisasi. Dalam situasi tersebut, Indonesia sebagai negara middle power dinilai perlu menentukan strategi agar mampu menghadapi perubahan lingkungan ekonomi dunia.
Host sekaligus Inisiator Economic Frontline, Harryadin Mahardika mengatakan penguatan peran negara menjadi salah satu isu yang tidak bisa dilepaskan dari perubahan tersebut. Ia mempertanyakan apakah Indonesia sedang bergerak menuju model ekonomi baru dengan keterlibatan pemerintah yang semakin besar.
Baca Juga:Nathan Barki Maju ke Perempat Final, Rafalentino Ali Da Costa/Ethan David Zapp Lolos ke Semifinal
Harryadin juga membandingkan perkembangan pendapatan dan biaya rumah tangga di Amerika Serikat dengan Tiongkok sepanjang 2000-2025. Ia menyebut pertumbuhan gaji di Amerika Serikat selama periode tersebut berada di kisaran 90 persen, sedangkan kenaikan biaya rumah tangga mencapai sekitar 80-90 persen.
Sementara di Tiongkok, pertumbuhan gaji disebut mencapai sekitar 1.300 persen dalam 25 tahun. Pada periode yang sama, pertumbuhan biaya rumah tangga berada di kisaran 80-90 persen.
“Jadi ada gap yang luar biasa yang menciptakan kesejahteraan,” jelasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022