
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Jumat (7/8), setelah sebelummya ditutup menguat 10 poin menjadi Rp 17.923 per dollar AS pada perdagangan Kamis (6/8).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri dan luar negeri.
"Untuk perdagangan (7/8) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.920-Rp 17.970," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Jumat (7/8).
Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Penurunan harga energi mendorong investor menurunkan ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh Federal Reserve.
“Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 55 persen, turun dari 67 persen dua hari sebelumnya,” ujarnya.
Menurutnya, pelaku pasar juga masih menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed. Laporan ADP National Employment menunjukkan perekrutan tenaga kerja sektor swasta pada Juli melambat, sementara perhatian kini tertuju pada laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis pada Jumat.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 yang mencapai 5,29 persen secara tahunan menjadi sentimen positif. Meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I, angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sehingga pertumbuhan ekonomi semester I 2026 tercatat sebesar 5,45 persen.
Baca Juga:Janji Tindak Lanjuti! KKI Telusuri Dugaan Perundungan Nakes yang Komentar Nirempati Pasien BPJS
Selain itu, perhatian pelaku pasar sepanjang Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, tetapi juga pengumuman FTSE Russell pada periode 10–14 Agustus 2026.
“Status pembekuan (freeze) Indonesia diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pergerakan pasar saham dalam waktu dekat,” ujarnya.
Meski berbagai reformasi yang dilakukan regulator dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai sebagai perkembangan positif, hal tersebut belum menjamin perubahan sikap FTSE Russell maupun MSCI dalam waktu dekat. MSCI diperkirakan baru akan menyampaikan evaluasi lanjutan terhadap reformasi pasar modal Indonesia menjelang akhir Oktober 2026.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022