
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Kamis (6/8), setelah sebelummya ditutup menguat 93 poin menjadi Rp 27.934 per dollar AS pada perdagangan Rabu (5/8).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri dan luar negeri.
"Untuk perdagangan (6/8) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.930-Rp 17.980," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Kamis (6/8).
Baca Juga:24 Pelamar Berebut 3 Kursi Direksi Kebun Binatang Surabaya, Pemkot Cari Sosok Berjiwa Konservasi
Ibrahim mengatakan, Ibrahim mengatakan, data ekonomi domestik yang lebih kuat dari perkiraan pasar menjadi salah satu faktor yang berpotensi menahan tekanan terhadap rupiah, meskipun sentimen eksternal masih membayangi pergerakan mata uang negara berkembang.
Menurutnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29 persen secara tahunan year-on-year (yoy) pada kuartal II/2026. Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.576,2 triliun.
Secara kuartalan quarter-to-quarter (q-to-q), ekonomi Indonesia tumbuh 3,73 persen dibandingkan kuartal I/2026. Adapun secara kumulatif semester I/2026 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya cumulative-to-cumulative (C-to-C), pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45 persen.
"Realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut berada di atas ekspektasi mayoritas ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan hanya berada di kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen. Hal ini menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih cukup solid di tengah tantangan global," ujarnya.
Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat dibandingkan kuartal I/2026 yang mencapai 5,61 persen, seiring meningkatnya biaya produksi akibat ketidakpastian ekonomi global, kebijakan moneter yang masih ketat, serta dinamika kebijakan fiskal di dalam negeri.
Di sisi lain, Ibrahim menilai perkembangan inflasi juga memberikan sentimen positif bagi pasar. BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026.
Meski inflasi tahunan masih berada di level 2,88 persen dan terdapat tekanan musiman dari kenaikan biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru, penurunan harga sejumlah komoditas pangan membantu menjaga daya beli masyarakat.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Jafar/Felisha dan Adnan/Indah Dicoret dari Kejuaraan Dunia, PBSI Buka Suara Soal Dugaan Match Fixing
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
