
Karyawan menghitung mata uang asing di di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Selasa (14/7), setelah sebelummya ditutup melemah 44 poin menjadi Rp 18.109 per dollar AS pada perdagangan Senin (13/7).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dari dalam dan luar negeri.
"Untuk perdagangan (14/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.100-Rp 18.150," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (14/7).
Ibrahim mengatakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah pasukan Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan rudal dan drone dalam skala besar. Teheran juga disebut kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur utama ekspor minyak mentah dari negara-negara Teluk.
Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global. Gangguan distribusi minyak berpotensi mendorong kenaikan harga energi, meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, serta memicu tekanan inflasi di berbagai negara, khususnya di kawasan Asia yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Dia mengatakan kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi lebih lama.
Risalah rapat The Fed bulan Juni menunjukkan sebagian pembuat kebijakan masih melihat adanya ruang untuk kenaikan suku bunga, sementara mayoritas pejabat tetap mewaspadai tekanan inflasi meski kondisi pasar tenaga kerja mulai menunjukkan perbaikan. Pertemuan Federal Reserve berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Juli.
"Dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan peluang suku bunga AS bertahan tinggi, penguatan dolar AS masih berpotensi berlanjut sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," ujarnya.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelaku pasar juga mencermati perkembangan kasus dugaan mega korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah. Menurutnya, isu tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap iklim investasi di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa kepastian hukum merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif. Apabila kepercayaan terhadap sistem hukum menurun, maka minat investasi, efisiensi ekonomi, hingga aktivitas inovasi berpotensi ikut terhambat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
