Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Juli 2026 | 17.37 WIB

Soal Isu Frontier Market, Pengamat: Posisi Indonesia di Emerging Markets Masih Aman

Awak mediaa berada di depan layar yang menampilkan IHSG di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (19/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Awak mediaa berada di depan layar yang menampilkan IHSG di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (19/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pengamat pasar modal, Hans Kwee menilai anggapan Indonesia berpotensi turun ke kategori Frontier Market (FM) yang dikeluarkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak memiliki dasar yang kuat.

Menurutnya, saat ini pasar saham Indonesia masih memiliki 11 saham yang memenuhi seluruh persyaratan MSCI untuk kategori Emerging Markets (EM).

“Untuk saat ini pasar saham Indonesia ada 11 saham yang memenuhi 3 syarat diatas. Artinya kalaupun ada beberapa saham Indonesia yang keluar pada penyesuaian Agustus 2026, jumlah saham Indonesia yang diatas kriteria itu masih lebih dari 3. Artinya menyebut Indonesia akan turun ke FM adalah kurang berdasar,” ujar Hans dalam catatanya dikutip Rabu (8/7).

Hans mengatakan, untuk mempertahankan status sebagai Emerging Markets, MSCI mensyaratkan sedikitnya tiga saham yang memenuhi tiga indikator utama, yakni Company Size, Security Size, dan Security Liquidity.

Seperti diketahui kriteria Company Size mengukur total kapitalisasi pasar perusahaan (full company market capitalization). Untuk kategori Emerging Markets, nilai minimal yang dipersyaratkan mencapai USD 3,937 miliar.

Sementara itu, Security Size mengukur kapitalisasi pasar saham yang telah disesuaikan dengan jumlah saham beredar di publik (free float-adjusted market capitalization atau float market capitalization).

Dalam perhitungan tersebut, MSCI menggunakan Foreign Inclusion Factor (FIF) untuk mengukur porsi saham yang benar-benar tersedia, likuid, dan dapat dibeli investor institusi internasional. Nilai minimal yang dipersyaratkan sebesar USD 1,969 miliar.

Adapun Security Liquidity mengukur likuiditas perdagangan saham agar investor institusi dapat melakukan transaksi dalam jumlah besar tanpa memicu gejolak harga yang ekstrem.

Untuk memenuhi kategori Emerging Markets, saham harus memiliki Annualized Traded Value Ratio (ATVR) minimal 15 persen. Rasio tersebut mengukur tingkat aktivitas perdagangan saham selama satu tahun berdasarkan porsi saham publik (free float).

Hans memperkirakan alasan MSCI masih mempertahankan status pembekuan untuk Indonesia dikarenakan faktor data yang digunakan. Dimana, MSCI masih menggunakan data baru Indonesia hasil reformasi pasar modal yang dilakukan OJK dan SRO.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore