
Awak mediaa berada di depan layar yang menampilkan IHSG di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (19/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pengamat pasar modal, Hans Kwee menilai anggapan Indonesia berpotensi turun ke kategori Frontier Market (FM) yang dikeluarkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak memiliki dasar yang kuat.
Menurutnya, saat ini pasar saham Indonesia masih memiliki 11 saham yang memenuhi seluruh persyaratan MSCI untuk kategori Emerging Markets (EM).
“Untuk saat ini pasar saham Indonesia ada 11 saham yang memenuhi 3 syarat diatas. Artinya kalaupun ada beberapa saham Indonesia yang keluar pada penyesuaian Agustus 2026, jumlah saham Indonesia yang diatas kriteria itu masih lebih dari 3. Artinya menyebut Indonesia akan turun ke FM adalah kurang berdasar,” ujar Hans dalam catatanya dikutip Rabu (8/7).
Hans mengatakan, untuk mempertahankan status sebagai Emerging Markets, MSCI mensyaratkan sedikitnya tiga saham yang memenuhi tiga indikator utama, yakni Company Size, Security Size, dan Security Liquidity.
Seperti diketahui kriteria Company Size mengukur total kapitalisasi pasar perusahaan (full company market capitalization). Untuk kategori Emerging Markets, nilai minimal yang dipersyaratkan mencapai USD 3,937 miliar.
Baca Juga:MSCI Tetap Bekukan Saham Indonesia
Sementara itu, Security Size mengukur kapitalisasi pasar saham yang telah disesuaikan dengan jumlah saham beredar di publik (free float-adjusted market capitalization atau float market capitalization).
Dalam perhitungan tersebut, MSCI menggunakan Foreign Inclusion Factor (FIF) untuk mengukur porsi saham yang benar-benar tersedia, likuid, dan dapat dibeli investor institusi internasional. Nilai minimal yang dipersyaratkan sebesar USD 1,969 miliar.
Adapun Security Liquidity mengukur likuiditas perdagangan saham agar investor institusi dapat melakukan transaksi dalam jumlah besar tanpa memicu gejolak harga yang ekstrem.
Untuk memenuhi kategori Emerging Markets, saham harus memiliki Annualized Traded Value Ratio (ATVR) minimal 15 persen. Rasio tersebut mengukur tingkat aktivitas perdagangan saham selama satu tahun berdasarkan porsi saham publik (free float).
Hans memperkirakan alasan MSCI masih mempertahankan status pembekuan untuk Indonesia dikarenakan faktor data yang digunakan. Dimana, MSCI masih menggunakan data baru Indonesia hasil reformasi pasar modal yang dilakukan OJK dan SRO.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor Malaga vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Super Depor Bisa Curi Poin
Prediksi Skor Getafe vs Racing Santander di Liga Spanyol 2026/2027: Azulones Rawan Kecolongan!
Prediksi Skor Brighton & Hove Albion vs Aston Villa di Liga Inggris 2026/2027: Laga Berakhir Imbang!
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Groningen di Liga Belanda: Boeren Enggan Malu di Kandang!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Tak Hanya Jenderal TNI-Polri, Pengusaha Haji Isam Dikabarkan Dapat Tugas Tangani Karhutla di Kalsel
Prediksi Skor Rennes vs Paris Saint-Germain di Liga Prancis 2026/2027: Les Parisiens Bisa Kesulitan!
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Los Rojiblancos Diunggulkan!
