Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Juni 2026 | 01.28 WIB

Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026, Melambat di Level 5,0 Persen

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Istimewa) - Image

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Istimewa)

JawaPos.com - Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan melambat di level 5,0 persen. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan proyeksi pada April lalu yang memproyeksikan laju produk domestik bruto (PDB) Indonesia berada di level 4,7 persen.

Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi RI pada 2026 terjadi karena kinerja triwulan I kuat dari perkiraan dan bahwa terjadi konsentrasi pengeluaran publik di awal tahun, alih-alih lingkungan eksternal atau penilaian risiko yang membaik.

Namun, dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) Juni 2026 bertajuk Managing Risks, Unlocking Productivity, Bank Dunia menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan naik 0,2 persen dari proyeksi 2026 menjadi 5,2 persen pada tahun 2027-2028.

“Pertumbuhan PDB diproyeksikan akan melambat menjadi 5,0 persen di tahun 2026, seiring dengan tekanan eksternal yang membebani investasi dan ekspor, kemudian naik menjadi 5,2 persen pada tahun 2027–2028,” tulis Bank Dunia dalam laporan tersebut dikutip Sabtu (13/6).

Dalam laporan tersebut, konsumsi swasta diperkirakan akan terus bertumbuh sekitar 5,0 persen, didukung oleh stimulus fiskal. Di sisi lain, konsumsi pemerintah bahkan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi 8,7 persen.

“Akan tetapi, ketergantungan terhadap konsumsi publik sebagai penyangga pertumbuhan jangka pendek juga disertai risiko, mengingat ruang fiskal yang terbatas dan beban subsidi yang meningkat di tengah peraturan fiskal yang berlaku,” tulisnya.

Skenario baseline ini mengasumsikan bahwa konflik di Timur Tengah masih akan terkendali, tetapi tetap berlanjut sepanjang tahun 2026.

Gangguan terhadap pasar minyak dan disrupsi logistik membuat harga minyak mentah Brent tetap tinggi di kisaran USD 94 per barel atau USD24 di atas asumsi yang digunakan dalam APBN 2026.

Sementara itu, dari sisi eksternal kondisi moneter global diperkirakan akan relatif ketat, dengan imbal hasil obligasi yang tinggi dan premi risiko yang sensitif terhadap guncangan baru.

“Permintaan eksternal diproyeksikan akan melambat di tahun 2026, sebelum secara perlahan pulih di tahun 2027–2028,” tulisnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore