
Hingga penutupan sesi I, Selasa (19/5), IHSG tercatat melemah signifikan sekitar 3,08 persen atau turun lebih dari 200 poin ke level 6.396. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terasa pada sesi pertama perdagangan, Selasa (19/5). Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat melemah signifikan sekitar 3,08 persen atau turun lebih dari 200 poin ke level 6.396.
Pelemahan ini mencerminkan tekanan jual yang meluas hampir di seluruh sektor perdagangan saham domestik. Koreksi tajam tersebut tidak terjadi secara mendadak. Sejak pembukaan perdagangan, IHSG sudah bergerak dalam tren melemah meski sempat menunjukkan perlawanan dengan pergerakan fluktuatif pada awal sesi.
Taprof Lemhanas RI, Edi Permadi, menjelaskan secara statistik, mayoritas saham berada di zona merah. Lebih dari 600 saham tercatat mengalami penurunan harga, sementara hanya sebagian kecil emiten yang mampu bertahan di jalur positif.
Menurutnya, aktivitas perdagangan yang tinggi di tengah pelemahan indeks juga mengindikasikan adanya aksi distribusi besar-besaran, terutama dari investor institusi dan asing. Arus keluar dana asing atau capital outflow tercatat meningkat dan semakin mempercepat tekanan terhadap pasar saham nasional.
"Kondisi ini diperburuk oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level terendah, sehingga meningkatkan risiko berdenominasi rupiah," kata Edi Permadi dalam keterangannya, Selasa (19/5).
Dari sisi eksternal, kondisi global juga belum memberikan dukungan positif. Ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi dunia, serta sikap hati-hati investor menjelang keputusan kebijakan moneter terkait suku bunga menjadi faktor tambahan yang membebani pergerakan IHSG.
Namun demikian, terdapat faktor lain yang dinilai turut memperkeruh suasana pasar, yakni munculnya informasi mengenai rencana pembentukan badan pengendali ekspor. Informasi yang belum terverifikasi secara resmi itu dengan cepat menyebar di kalangan investor dan memicu kekhawatiran baru terhadap prospek sektor ekspor nasional.
Ia pun menegaskan, rumor di pasar memiliki pengaruh besar terhadap psikologi investor, terutama ketika kondisi pasar sedang berada dalam tekanan. Menurutnya, ketidakjelasan informasi sering kali menciptakan ruang spekulasi yang luas sehingga memicu aksi jual lebih cepat dari pelaku pasar.
“Dalam konteks psikologi pasar, rumor semacam ini seringkali memiliki efek yang lebih besar dibandingkan fakta aktual. Ketidakjelasan informasi menciptakan ruang spekulasi yang luas, sehingga mendorong investor untuk mengambil posisi defensif,” ujar Edi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022