
Ilustrasi job seekers. (Freepik)
JawaPos.com - Perubahan kebutuhan tenaga kerja mulai terasa di berbagai sektor industri dalam dua tahun terakhir. Perusahaan disebut tidak lagi sekadar mencari pekerja yang 'siap kerja', tetapi juga yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap produktivitas dan hasil bisnis.
Transformasi ini terjadi seiring meningkatnya kompleksitas operasional, mulai dari distribusi multi-channel hingga tuntutan layanan yang cepat dan konsisten. Kondisi tersebut membuat perusahaan semakin membutuhkan tenaga kerja yang adaptif, terukur kinerjanya, dan mampu bekerja secara efisien di lapangan.
Tren ini sejalan dengan laporan World Economic Forum dalam The Future of Jobs Report 2023 yang menyebutkan bahwa sekitar 44 persen keterampilan pekerja diperkirakan perlu diperbarui dalam beberapa tahun ke depan.
Artinya, dunia kerja tengah bergerak menuju fase baru yang menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia secara signifikan.
Di Indonesia, pergeseran tersebut juga tercermin dari meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di sektor fast-moving consumer goods (FMCG), yang menuntut kecepatan eksekusi sekaligus konsistensi di lapangan. Dalam sektor ini, peran tenaga kerja menjadi krusial karena berhubungan langsung dengan distribusi produk dan performa penjualan.
Chief Commercial Officer Staffinc, Margana Mohamad, menilai bahwa tantangan utama ke depan bukan lagi sekadar soal ketersediaan tenaga kerja, melainkan kualitas dan konsistensi kinerja mereka.
“Di lapangan, tenaga kerja menjadi faktor penting dalam eksekusi yang berdampak langsung pada hasil bisnis. Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa mereka tidak hanya tersedia, tetapi juga mampu bekerja secara optimal,” ujarnya di Jakarta baru-baru ini.
Seiring dengan perubahan tersebut, pendekatan perusahaan terhadap pengelolaan tenaga kerja juga mulai bergeser. Jika sebelumnya fokus pada pemenuhan kebutuhan jumlah tenaga kerja, kini perhatian beralih pada bagaimana kinerja mereka dapat diukur dan dikaitkan langsung dengan efisiensi operasional.
Salah satu tren yang mulai mengemuka adalah pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam proses rekrutmen. Teknologi ini memungkinkan proses seleksi dilakukan dalam skala besar dan waktu yang lebih singkat dibandingkan metode konvensional.
Dengan sistem berbasis AI, proses wawancara kandidat yang sebelumnya terbatas hanya beberapa orang per hari kini dapat dilakukan terhadap ratusan hingga ribuan kandidat dalam waktu bersamaan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022