Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 April 2026 | 05.52 WIB

86 Juta Penduduk Kelas Menengah Transisi Indonesia Rentan Terdampak Guncangan Ekonomi

Ilustrasi seseorang dalam kelompok kelas menengah. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang dalam kelompok kelas menengah. (Freepik)

JawaPos.com - Perubahan struktur ekonomi Indonesia menyisakan pekerjaan rumah besar. Berdasar data analisis Mandiri Institute yang merupakan Tim Ekonom Bank Mandiri, 86 juta orang penduduk Indonesia tergolong ke dalam kelompok kelas menengah transisi atau transitional middle class.

Adapun transitional middle class merupakan gabungan Upper Aspiring Middle Class (AMC) dan Lower Middle Class (MC). Mereka memiliki karakteristik mobilitas yang sangat dinamis, tetapi rentan. 

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, dinamika di kelompok transisi menjadi tantangan bagi penguatan struktur ekonomi nasional. Data periode 2019 hingga 2025 menunjukkan kelompok Lower MC mengalami penurunan jumlah hingga lebih dari 11 juta orang. Kelompok Upper AMC cenderung stagnan di bawah ambang batas kelas menengah

Di sisi lain, kelompok menengah atas (Middle MC dan Upper MC) justru mencatat kenaikan sebesar 416 ribu orang. 

“Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat di zona transisi memiliki daya dorong yang cukup untuk terus naik ke level ekonomi yang lebih mapan secara berkelanjutan,” ujar Andry Asmoro dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (14/4).

Menurut Asmo begitu Andry Asmoro disapa, dalam kajian Mandiri Institute kualitas pekerjaan menjadi pembeda utama antara kelas menengah transisi dengan kelompok di atasnya. Meskipun lebih dari 50 persen kelompok transisi telah terserap di sektor formal, angka itu masih terpaut jauh dengan selisih 28 poin persentase dibandingkan kelompok kelas menengah yang lebih mapan. Disparitas ini membatasi kemampuan masyarakat dalam melakukan akumulasi aset dan memperlebar kerentanan jika terjadi guncangan ekonomi

Rendahnya kualitas pendapatan ini tercermin dari struktur pengeluaran kelompok Upper AMC dan Lower MC yang masih didominasi oleh kebutuhan primer. Alokasi terbesar dihabiskan untuk mobilitas (20%), perumahan (13%), dan tagihan rutin (10%). 

Sementara itu, porsi untuk peningkatan kesejahteraan (well-being) seperti kesehatan dan pendidikan mencapai 15%. Kondisi ini menyisakan ruang konsumsi sekunder seperti lifestyle, barang elektronik, dan barang tahan lama yang sangat terbatas, yakni hanya sekitar 18%.

Keterbatasan ruang finansial ini juga berdampak pada minimnya kepemilikan aset cadangan (buffer asset). Tercatat hanya 21% dari rumah tangga Upper AMC yang memiliki aset likuid seperti emas, sangat jauh jika dibandingkan dengan kelompok Upper MC yang mencapai 69%. Tanpa aset cadangan yang memadai, kelompok transisi sangat rentan terhadap risiko inflasi maupun kehilangan pendapatan. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore