
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)
JawaPos.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah pada perdagangan Senin (9/3) sore. Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik global yang mendorong lonjakan tajam harga minyak dunia.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pada perdagangan sore ini rupiah ditutup melemah 24 poin.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 24 poin. Sebelumnya sempat melemah 70 poin di level Rp 16.949 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.925,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (9/3).
Ia memperkirakan pada perdagangan Selasa (10/3), pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Adapun rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 16.950 hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu oleh lonjakan harga minyak global. Harga minyak tercatat melonjak hingga sekitar 30 persen dan melampaui level USD 100 per barel, mendekati posisi tertinggi saat pecahnya pada 2022.
"Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan udara dan yang menargetkan fasilitas minyak pada akhir pekan. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke sejumlah fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah," jelas Ibrahim.
Di sisi lain, situasi kian memanas setelah Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal di jalur pelayaran yang merupakan jalur utama pengiriman minyak global. Selat tersebut menjadi rute sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sehingga potensi penutupannya menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan ekonomi di Asia. Inflasi indeks harga konsumen di tercatat tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Februari. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,9 persen dan menjadi laju inflasi tercepat dalam tiga tahun.
Kenaikan inflasi itu terutama dipicu oleh lonjakan pengeluaran selama libur yang meningkatkan permintaan terhadap perjalanan, jasa, serta berbagai barang konsumsi.
Meski demikian, indeks harga produsen China masih berada dalam fase kontraksi sehingga pelaku pasar masih menunggu tanda keberlanjutan tren inflasi tersebut.
Di dalam negeri, Ibrahim juga menyoroti lonjakan harga minyak dunia yang sudah menyentuh sekitar USD 92 per barel, jauh di atas asumsi makro yang mematok harga minyak di kisaran USD 70 per barel.
Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal nasional. Jika harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui USD 100 per barel, defisit anggaran berpotensi meningkat signifikan.
“Ini bisa menaikkan defisit sekitar Rp 6,8 triliun. Jika terus melonjak, defisit APBN terhadap PDB bisa terdorong mendekati 4 persen,” jelasnya.
