Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Maret 2026, 00.13 WIB

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.925 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan Timur Tengah

Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan sore ini, Kamis (25/9). (Dok JawaPos.com) - Image

Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan sore ini, Kamis (25/9). (Dok JawaPos.com)

JawaPos.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 20 poin ke level Rp 16.925 pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (6/3).

Sebelumnya, mata uang Garuda sempat tertekan hingga melemah sekitar 40 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 16.903 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian global. Terutama konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari ketujuh tanpa tanda-tanda mereda. Dalam sepekan terakhir, serangan rudal dan aksi balasan terus terjadi di berbagai wilayah sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas geopolitik dan pasokan energi global.

“Ketegangan geopolitik tersebut membuat pelaku pasar global cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (6/3).

Ia menjelaskan, konflik tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dunia karena berpotensi mengganggu infrastruktur energi serta jalur pelayaran di kawasan Teluk.

Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran akan munculnya gelombang inflasi global baru. Kondisi tersebut, lanjut Ibrahim, turut mempersulit prospek kebijakan bank sentral global, termasuk harga energi yang tinggi berpotensi mendorong inflasi sehingga membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.

Di sisi lain, pasar juga menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, khususnya laporan non-farm payroll Februari yang dijadwalkan keluar pada Jumat waktu setempat.

Data tersebut dinilai dapat memberikan gambaran baru mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan moneter ke depan.

“Jika data tenaga kerja AS lebih kuat dari perkiraan, maka peluang penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Fed semakin besar. Hal ini biasanya akan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelasnya.

Di sisi lain, dari faktor domestik, sentimen juga datang dari evaluasi lembaga pemeringkat internasional yang merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Salah satu pertimbangannya adalah rendahnya rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB).

Dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia berada di kisaran 9–10 persen terhadap PDB dan cenderung menurun. Pada 2025 misalnya, rasio pajak tercatat sebesar 9,31 persen, turun dari 10,08 persen pada 2024.

Fitch juga memproyeksikan rasio pendapatan negara Indonesia hanya mencapai rata-rata 13,3 persen terhadap PDB pada periode 2026–2027. Angka tersebut masih jauh di bawah median negara dengan peringkat kredit setara kategori BBB yang berada di level sekitar 25,5 persen.

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Pada perdagangan Senin mendatang, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.920 hingga Rp 16.960 per dolar AS.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore