
Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan sore ini, Kamis (25/9). (Dok JawaPos.com)
JawaPos.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 20 poin ke level Rp 16.925 pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (6/3).
Sebelumnya, mata uang Garuda sempat tertekan hingga melemah sekitar 40 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 16.903 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian global. Terutama konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari ketujuh tanpa tanda-tanda mereda. Dalam sepekan terakhir, serangan rudal dan aksi balasan terus terjadi di berbagai wilayah sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas geopolitik dan pasokan energi global.
“Ketegangan geopolitik tersebut membuat pelaku pasar global cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (6/3).
Ia menjelaskan, konflik tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dunia karena berpotensi mengganggu infrastruktur energi serta jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran akan munculnya gelombang inflasi global baru. Kondisi tersebut, lanjut Ibrahim, turut mempersulit prospek kebijakan bank sentral global, termasuk harga energi yang tinggi berpotensi mendorong inflasi sehingga membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
Di sisi lain, pasar juga menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, khususnya laporan non-farm payroll Februari yang dijadwalkan keluar pada Jumat waktu setempat.
Data tersebut dinilai dapat memberikan gambaran baru mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan moneter ke depan.
“Jika data tenaga kerja AS lebih kuat dari perkiraan, maka peluang penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Fed semakin besar. Hal ini biasanya akan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelasnya.
Di sisi lain, dari faktor domestik, sentimen juga datang dari evaluasi lembaga pemeringkat internasional yang merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Salah satu pertimbangannya adalah rendahnya rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia berada di kisaran 9–10 persen terhadap PDB dan cenderung menurun. Pada 2025 misalnya, rasio pajak tercatat sebesar 9,31 persen, turun dari 10,08 persen pada 2024.
Fitch juga memproyeksikan rasio pendapatan negara Indonesia hanya mencapai rata-rata 13,3 persen terhadap PDB pada periode 2026–2027. Angka tersebut masih jauh di bawah median negara dengan peringkat kredit setara kategori BBB yang berada di level sekitar 25,5 persen.
Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Pada perdagangan Senin mendatang, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.920 hingga Rp 16.960 per dolar AS.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
