Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)
JawaPos.com - Kebijakan insentif kendaraan listrik (EV) disebut masih menjadi kebutuhan penting bagi industri otomotif nasional. Hal ini terutama di tengah melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah.
Hal ini disampaikan pengamat ekonomi senior Perbanas, Josua Pardede pada diskusi “Insentif EV Dihapus, Kemana Arah Masa Depan Industri Otomotif di Indonesia?” yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, (10/2).
"Terjadi penurunan daya beli kelas menengah yang cukup signifikan dan ini nyata. Data juga menunjukkan jumlah kelas menengah menurun tajam, sementara kelompok masyarakat rentan meningkat," ujar Josua.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung pada performa penjualan mobil di segmen menengah ke bawah. Bahkan, kendaraan low cost green car (LCGC) tercatat mengalami kontraksi penjualan yang cukup dalam.
Di sisi lain, kendaraan listrik justru menjadi penopang utama pasar mobil penumpang, khususnya pada kuartal IV 2025.
Josua menilai, melonjaknya penjualan EV pada Desember 2025 dipicu oleh keputusan konsumen untuk mempercepat pembelian, seiring kekhawatiran berakhirnya insentif pemerintah pada awal tahun berikutnya.
"Terjadi lonjakan yang sangat signifikan dari November ke Desember. Dugaan kami, konsumen melakukan pembelian karena khawatir insentif kendaraan listrik tidak berlanjut," ungkapnya.
Ia menambahkan, pasar kendaraan listrik saat ini masih didominasi oleh konsumen kelas menengah atas, yang umumnya bukan pembeli mobil pertama. Kelompok ini dinilai memiliki daya tahan ekonomi lebih baik sehingga relatif lebih siap beralih ke kendaraan listrik.
Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa penghentian insentif berpotensi mendorong kenaikan harga EV, yang pada akhirnya bisa menekan permintaan pasar. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kinerja industri otomotif secara keseluruhan, yang saat ini masih menghadapi tren penurunan penjualan secara tahunan.
"Jika insentif dihentikan tanpa pengganti, akan ada kenaikan harga dan penurunan penjualan EV. Ini tentu akan memengaruhi kinerja industri otomotif tahun ini," katanya.
Lebih lanjut, Josua menyebut skema insentif yang paling memungkinkan untuk diterapkan adalah insentif bersyarat, misalnya bagi produsen yang telah memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) atau ditujukan khusus bagi pembeli mobil pertama.
Ia menegaskan, meskipun ruang fiskal pemerintah terbatas, dukungan terhadap pengembangan kendaraan listrik tetap krusial karena segmen konsumen EV dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022