
Istana negara Ibu Kota Nusantara (IKN). Foto: Edy Pramana/ JawaPos.com
JawaPos.com - Jumlah penduduk di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) terus menjadi sorotan. Rencana penetapan IKN sebagai ibu kota politik pada 2028 mendatang memperkuat fokus tersebut.
Berdasarkan hasil Pendataan Penduduk Ibu Kota Nusantara (PPIKN) 2025, jumlah penduduk di wilayah delineasi IKN tercatat sebanyak 147.427 jiwa. Jumlah ini setara dengan 43.293 rumah tangga.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, sebaran penduduk IKN saat ini tidak merata. Konsentrasi penduduk tertinggi ada di Desa Samboja Kuala, Desa Muara Jawa Ulu, Desa Muara Jawa Pesisir, dan Desa Telemau.
Tingkat kepadatan di desa-desa tersebut lebih dari 400 jiwa per kilometer persegi. "Wilayah-wilayah tersebut menjadi pusat aktivitas penduduk. Dengan demikian, kawasan ini dapat menjadi prioritas dalam penyediaan layanan dasar dan infrastruktur Ibu Kota Nusantara ke depan," ujar Amalia di Jakarta, dikutip Senin (22/12).
Dari sisi struktur penduduk, hasil PPIKN 2025 menunjukkan IKN didominasi oleh generasi Z dan milenial. Dari total sekitar 147.430 jiwa, kedua generasi ini mencakup lebih dari setengah populasi IKN.
Komposisi ini mencerminkan potensi besar penduduk usia produktif untuk mendukung pembangunan IKN. BPS mencatat, penduduk usia produktif (15–64 tahun) mencapai 67,91 persen dari total penduduk IKN.
Rasio ketergantungan umur di IKN tercatat sebesar 47,25. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 47 hingga 48 penduduk non-produktif.
"Angka rasio ketergantungan yang berada di bawah 50 ini mengindikasikan jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan non-produktif. Kondisi ini masuk dalam kategori bonus demografi," jelas Amalia.
BPS juga mencatat perbedaan komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin. Jumlah penduduk laki-laki di IKN lebih banyak dibanding perempuan. Ini diduga dipengaruhi oleh masuknya tenaga kerja, khususnya pekerja konstruksi bangunan.
Pembangunan infrastruktur masif di kawasan IKN menjadi faktor utama keberadaan pekerja tersebut. Dari sisi fertilitas, pada tahun 2025 total fertility rate (TFR) IKN tercatat sebesar 2,14. Angka ini menunjukkan rata-rata kelahiran perempuan di IKN selama masa reproduksinya.
"TFR sebesar 2,14 ini sudah mendekati replacement level," tutur Amalia. Menurut kelompok umur, puncak kelahiran tertinggi di IKN adalah perempuan usia 25–29 tahun. Kelompok ini mencatat sekitar 126 hingga 127 kelahiran hidup per seribu perempuan.
Untuk indikator mortalitas, angka kematian bayi di IKN pada 2025 tercatat sebesar 14,16. Artinya, terdapat sekitar 14 hingga 15 kematian bayi per seribu kelahiran hidup.
"Adapun angka kematian ibu tercatat sebesar 143, atau terdapat 143 kematian perempuan pada masa kehamilan, persalinan, atau nifas per 100 ribu kelahiran hidup," tukasnya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
