
Ilustrasi energi hijau. (Istimewa)
JawaPos.com-Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih rumit dibanding banyak negara lain dalam upaya transisi energi hijau hingga mencapai target net zero emission pada 2060.
Keragaman sumber daya alam, ketergantungan tinggi pada energi fosil, serta struktur ekonomi yang masih bertumpu pada sektor-sektor beremisi besar membuat proses transisi energi hijau tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa.
Ketua Indonesia Corporate Secretary Association (ICSA) Katharine Grace menyatakan, Indonesia membutuhkan harmonisasi kebijakan dan titik temu yang jelas antara kebutuhan pembangunan dan komitmen global terhadap pengurangan emisi. Meski Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah, kondisi ini justru membuat ketergantungan pada energi semakin kuat.
Dia menjelaskan, ketergantungan tersebut tidak bisa dilepas begitu saja karena akan membuat proses transisi berjalan tidak siap.
“Kalau kita langsung lepas begitu, pasti kita nggak siap. Tarik ulur pemerintah itu penting. Yang utama adalah bagaimana komitmen 2060 untuk net zero emission tetap dijaga,” kata Katharine Grace.
Menurut dia, sekitar separuh portofolio kredit nasional masih terkait sektor beremisi tinggi seperti batu bara dan energi fosil lainnya. Ini menjadi hambatan besar, tetapi bukan berarti arah transisi berhenti.
Pemerintah harus mengatur langkah secara lebih agresif agar transisi berjalan terarah tanpa mengguncang stabilitas ekonomi. Katharine Grace menilai, kompleksitas Indonesia jauh lebih besar dibanding negara-negara ASEAN lain. Singapura misalnya, tidak memiliki ketergantungan pada sumber daya alam seperti Indonesia sehingga dapat bergerak lebih cepat dalam transformasi energi bersih.
“Kita 100 persen masih sangat bergantung pada natural resources. Fuel kita masih banyak dari minyak dan proses eksplorasi terus berjalan,” jelas Katharine Grace.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa konsep net zero bukan berarti seluruh aktivitas berbasis fosil harus dihapus total. Yang terpenting adalah keseimbangan antara emisi yang dihasilkan dan yang dikembalikan kepada bumi.
“Kalau perusahaan gas menghasilkan emisi 20 juta ton CO₂ equivalent, maka mereka harus mengembalikan 20 juta ton itu. Itulah konsep net zero,” tegas Grace.
Mekanisme seperti carbon trading, penanaman pohon, dan berbagai skema offset lainnya menjadi instrumen penting untuk mencapai keseimbangan tersebut. Meski transisi ke energi terbarukan terus didorong, Grace menilai langkah itu tetap harus realistis mengikuti dinamika ekonomi nasional.
Sementara itu, Co-Founder & CEO Olahkarsa Unggul Ananta menyebut, investasi berkelanjutan secara global makin meningkat. Laporan Sustainability Reality dari Ford & Stanley menyatakan bahwa rata-rata imbal hasil investasi berkelanjutan sebesar 12,5 persen. Angkanya lebih tinggi dibanding dana tradisional yang tumbuh 9,2 persen.
"Tentu dari data ini mengirimkan suatu pesan yang penting di mana perusahaan mulai melihat bahwa ESG ini bukan hanya sekadar baik terhadap bumi dan masyarakat serta stakeholder, tetapi bagaimana pembiayaan ESG memiliki implikasi terhadap imunitas ekonomi yang lebih kuat dan inerja finansial yang lebih baik," jelas Unggul.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
