
Ilustrasi Bank Indonesia. BI memastikan RUU Redenominasi Rupiah sudah masuk Prolegnas 2025-2029. (dok. JawaPos.com)
JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk terus memperkuat praktik keberlanjutan dan transisi menuju ekonomi hijau terus dimatangkan. Melalui kebijakan makroprudensial, BI memberikan insentif kepada perbankan yang menyalurkan pembiayaan ke sektor berkelanjutan. Upaya ini menjadi bagian dari strategi mendorong sistem keuangan nasional yang lebih ramah lingkungan dan mendukung pembangunan jangka panjang.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, hingga 1 November 2025, insentif makroprudensial yang telah dikucurkan BI kepada perbankan mencapai Rp36,38 triliun. Selain mendorong sektor perbankan agar lebih agresif pada pembiayaan hijau, BI juga mendampingi 159 UMKM hijau melalui pengembangan usaha dan fasilitasi business matching pembiayaan sehingga sektor usaha ramah lingkungan dapat semakin berkembang.
Selain kebijakan moneter dan insentif, BI turut mengembangkan inovasi pendukung berupa Kalkulator Hijau sebagai alat bantu terstandar untuk menghitung estimasi emisi dari berbagai aktivitas ekonomi. Upaya itu ditujukan agar pelaku ekonomi memiliki acuan yang terukur dalam mereduksi emisi gas rumah kaca.
"Seluruh kebijakan dan inisiatif ini kami susun untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif," kata Destry di Bali, kemarin (23/11).
Penerapan kebijakan hijau BI juga diwujudkan melalui aksi nyata pengurangan dan penyeimbangan emisi karbon. Selain melakukan pembelian kredit karbon sebesar 150 ton CO₂e, BI turut melaksanakan penanaman 37 ribu pohon di berbagai wilayah Indonesia.
"Program tersebut melibatkan seluruh Kantor Perwakilan BI di daerah sebagai sebagai upaya bersama untuk berkontribusi pada pengurangan emisi karbon," tuturnya.
Di sisi lain, pemahaman tentang kredit karbon turut diperkuat mengingat mekanisme tersebut menjadi salah satu instrumen penting dalam transisi ekonomi hijau. Kredit karbon merupakan sertifikat yang merepresentasikan penyerapan emisi gas rumah kaca sebesar 1 ton CO₂e dan diberikan kepada proyek yang terbukti menurunkan emisi, seperti energi terbarukan dan penanaman pohon. Perusahaan dapat membeli kredit karbon melalui Bursa Efek Indonesia untuk mengimbangi emisi yang mereka hasilkan.
Konsep carbon offset juga diperkenalkan lebih luas kepada pelaku usaha dan masyarakat sebagai cara mengurangi jejak karbon dari aktivitas ekonomi maupun konsumsi harian. Dengan kombinasi kebijakan, pendampingan, insentif, dan aksi nyata lingkungan, BI berharap ekosistem keuangan nasional dapat semakin adaptif terhadap prinsip keberlanjutan, sekaligus mendukung terciptanya ekonomi hijau yang inklusif dan berdaya saing.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
