
EKSPOR IMPOR: Ilustrsi kendaraan berat mengangkut kontainer di Terminal Petikemas, kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan nilai ekspor Indonesia periode Januari hingga September 2025 naik mencapai USD209,81 miliar atau naik 8,14 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Dalam laporan itu, ekspor nonmigas menjadi penopang. Di mana terdapat 10 komoditas ekspor yang hampir semuanya mengalami peningkatan, kecuali komoditas bahan bakar mineral. Salah satu penopang dalam sektor nonmigas adalah komoditas alas kaki yang naik mencapai USD583,1 juta (11,19 persen).
Terkait ini, Ketua Bidang Perdagangan DPN Apindo, Anne Patricia Sutanto menanggapi positif pencapaian tersebut. Menurutnya, peningkatan ekspor komoditas alas kaki memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian nasional.
"Terutama karena industri ini tergolong padat karya," ujar Anne saat dihubungi Jawapos.com, Rabu (5/11).
Dijelaskan Anne, beberapa dampak positif dari peningkatan ekspor industri Alas Kaki yakni pertama adanya penciptaan lapangan kerja. Sebagai industri padat karya, kenaikan ekspor akan memicu peningkatan produksi, yang secara langsung membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Hal ini berdampak pada penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama di Pulau Jawa, dan membantu mengurangi pengangguran.
Kedua, peningkatan devisa negara. Kenaikan nilai ekspor secara keseluruhan akan menambah pemasukan devisa bagi negara, yang penting untuk stabilitas neraca perdagangan.
Ketiga, penguatan industri manufaktur. Menurut Anne, Industri alas kaki adalah salah satu sub-sektor unggulan dalam sektor manufaktur nonmigas. Kenaikan ekspor menandakan peningkatan kinerja dan daya saing industri nasional di pasar global, yang turut menyumbang signifikan bagi Produk Domestik Bruto (PDB).
"Keempat bagian dari Rantai Nilai Global (GVC). Kinerja ekspor yang meningkat menunjukkan Indonesia makin terintegrasi dalam rantai nilai global, seringkali sebagai produsen untuk merek-merek ternama dunia," urainya.
Dampak Trade Diversion
Meski demikian, Anne mengingatkan terkait adanya efek trade diversion antara Amerika Serikat dan Tiongkok bagi industri alas kaki Indonesia. Dampaknya, ada dua sisi, yaitu peluang dan ancaman.
Tarif yang dikenakan AS pada produk Tiongkok membuat barang Tiongkok lebih mahal. Ini menciptakan peluang bagi Indonesia, serta negara Asia Tenggara lainnya seperti Vietnam, untuk menjadi destinasi alternatif bagi importir AS yang mencari pemasok dengan harga lebih kompetitif. Ini dapat menghasilkan trade creation bagi Indonesia.
"Perusahaan alas kaki multinasional yang sebelumnya beroperasi di Tiongkok dapat mengalihkan investasi dan pabrik mereka ke Indonesia untuk menghindari tarif AS, sehingga meningkatkan kapasitas produksi dan transfer teknologi di dalam negeri," terangnya.
Di sisi lain, lanjut Anne, produk alas kaki Tiongkok yang ditahan masuk ke pasar AS atau Eropa dapat dialihkan dan membanjiri pasar Indonesia dengan harga yang sangat kompetitif. Hal ini berpotensi memukul industri alas kaki lokal, terutama Usaha Kecil dan Menengah (UKM), yang kesulitan bersaing dalam hal harga dan volume.
Meskipun mendapat peluang ekspor, industri alas kaki Indonesia masih memiliki ketergantungan impor bahan baku dari Tiongkok. Eskalasi konflik atau gangguan rantai pasok dapat memengaruhi biaya produksi dan kinerja ekspor Indonesia.
"Kesimpulannya, Indonesia mendapatkan peluang trade creation sebagai tujuan ekspor alternatif ke AS, tetapi perlu diimbangi dengan kerentanan terhadap trade diversion produk Tiongkok ke pasar domestik yang berpotensi merusak industri alas kaki lokal," ungkapnya.
Strategi Peningkatan
Dalam upaya peningkatan ekspor industri alas kaki, Anne mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada kualitas semata, melainkan pada serangkaian strategi komprehensif, yaitu pertama inovasi produk. Melakukan penelitian dan pengembangan (R&D) untuk meningkatkan kualitas produk, daya tahan, dan yang terpenting inovasi desain yang sesuai dengan tren pasar global. Pengembangan produk bernilai tambah tinggi (misalnya sepatu olahraga/teknologi tinggi) dan ramah lingkungan (bahan baku berkelanjutan) perlu diprioritaskan.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
