Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 16.09 WIB

Indonesia Hadapi Tantangan Ganda di Sektor Ekonomi, Perlu Percepat Belanja Fiskal dan Moneter yang Akomodatif

Chief Econonist Bank Mandiri Andry Asmoro (tiga dari kiri) bersama jajaran ekonom lainnya dalam Mandiri Economic Outlook Q3 2025, Kamis (28/8). (Bank Mandiri untuk Jawa Pos) - Image

Chief Econonist Bank Mandiri Andry Asmoro (tiga dari kiri) bersama jajaran ekonom lainnya dalam Mandiri Economic Outlook Q3 2025, Kamis (28/8). (Bank Mandiri untuk Jawa Pos)

JawaPos.com - Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi perlu kebijakan countercyclical moneter maupun fiskal. Perlu percepatan realisasi belanja pemerintah dan kebijakan moneter yang akomodatif. Meski tantangan perekonomian global masih ada.

"Kami melihat ada satu kali lagi ruang pemangkasan BI rate di tahun ini. Kebijakan fiskal juga kami meyakini di semester II ini akan akselerasi belanjanya akan relatif lebih cepat. Itu yang akan berdampak kepada pertumbuhan (ekonomi) dan likuiditas perbankan," kata Chief Econonist Bank Mandiri Andry Asmoro dalam Economic Outlook Q3 2025, Kamis (28/8).

Dampak kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) tidak hanya terasa secara langsung. Tapi juga melalui jalur tidak langsung seperti masuknya produk-produk Tiongkok ke pasar domestik. Mengingat, Tiongkok juga kesulitan memasuki market AS.

"Kemudian itu berdampak kepada membanjirnya barang-barang produk dari Tiongkok masuk ke emerging market, termasuk Indonesia," jelasnya.

Meski demikian, Asmo melihat peluang ekspor komoditas selain dari batu bara dan crude palm oil (CPO). Seperti kopi, coklat, dan kelapa yang tren harga dan permintaannya sedang cukup tinggi. Yang kemudian akan bisa menyokong neraca perdagangan Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Menurut dia, dampak dari kebijakan tarif resiprokal AS akan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi global. Yang pada akhirnya turut mempengaruhi ekspor utama Indonesia. Seperti batubara dan CPO.

Di tengah tensi geopolitik yang meningkat, terutama di kawasan Eropa Timur dan Timur Tengah, Asmo mencatat ada dampak ganda bagi perekonomian. Yakni memberikan aspek positif yang menaikkan harga-harga komoditas yang menjadi substitusi dari harga minyak. "Nah biasanya harga komoditas tersebut adalah harga atau unggulan dari ekspor Indonesia," ujarnya.

Namun demikian, dia mengingatkan volatilitas pasar keuangan tetap menjadi tantangan utama. Ketidakpastian global bisa menciptakan tekanan terhadap nilai tukar, aliran modal, dan stabilitas makroekonomi domestik.

"Jadi kami lihat volatilitas pasar meningkat, kemudian instead of pelemahan dari dolar AS (USD), malah bisa terjadi lagi. Memudian USD yang menguat karena memang terjadinya capital flight kepada safe haven currency," tandasnya.

Direktur Treasury and International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi memproyeksi ekonomi Indonesia 2025 berpeluang tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,1 persen. Sejalan dengan perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah dinamika global hingga triwulan II 2025.

Didukung arah kebijakan Bank Indonesia yang cenderung akomodatif. Selama stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi terjaga di kisaran target. Yang tak kalah penting akselerasi realisasi belanja pemerintah. "Agar dapat menjadi bantalan bagi perekonomian dalam menghadapi ketidakpastian global," bebernya. 

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore