Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 26 Agustus 2025 | 04.04 WIB

Waspada! Krisis Iklim Ancam Perekonomian Nasional, Mulai dari Sektor Pangan hingga Pariwisata

Ilustrasi kebakaran hutan (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi kebakaran hutan (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Saat ini, persoalan timbul dari berbagai sektor. Krisis iklim bukan hanya sekadar isu lingkungan, tapi mulai merambat ke sektor perekonomian. Bencana alam yang terjadi tak dapat dimungkiri membawa sejumlah kerugian bahkan dalam lingkup yang besar.

Dampak Krisis Iklim pada Berbagai Sektor Ekonomi

1. Sektor Pertanian

Cuaca yang sering berubah dalam jangka waktu relatif singkat berpengaruh besar, terutama pada sektor pertanian. Banjir dan kekeringan yang datang silih berganti menjadi tantangan utama bagi hasil panen ke depannya.

Melansir dari laman bps.go.id, anomali cuaca jelas berperan dalam kuantitas produksi dan fluktuasi padi dan jagung di dalam negeri. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi ketahanan pangan nasional.

2. Sektor Perikanan

Suhu laut yang berubah-ubah mengakibatkan pasang surut yang tidak stabil. Hal ini berpengaruh pada pola migrasi ikan dan menjadi hambatan baru bagi para nelayan. Dengan hasil tangkapan yang menurun drastis sementara permintaan terus bertambah, harga yang ditawarkan akan semakin menjulang.

3. Sektor Energi dan Sumber Daya Alam

Kekeringan juga membuat debit air semakin berkurang. Akibatnya, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) mulai kehilangan daya. Situasi ini mengharuskan kita untuk segera mencari alternatif lain yang sejenis dengan energi terbarukan, agar sumber daya tetap terjaga.

4. Kerusakan Ekosistem dan Lingkungan

Kebakaran hutan hingga kerusakan ekosistem laut juga menjadi ancaman yang tidak bisa dianggap sepele. Kebakaran hutan selain menimbulkan rasa cemas, juga membuat habitat hewan terancam bahkan punah. Buruknya, hewan yang masih bertahan dan kehilangan tempat tinggal bisa membahayakan karena mulai turun ke pemukiman warga. Naiknya air laut selain berpengaruh pada ekosistem di bawahnya, juga berpengaruh pada sektor wisata. Bali, misalnya, mulai banyak pantai yang tenggelam dan hilang akibat naiknya air. Jika dibiarkan terlalu lama, dapat menyebabkan abrasi atau bahkan menimbulkan potensi tsunami di luar kerugian utamanya, yaitu destinasi wisata yang mulai hilang.

Strategi Menghadapi Krisis Iklim

Melansir dari laman dibi.bnpb.go.id, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa dalam lima tahun terakhir intensitas bencana hidrometeorologi terus meningkat. Kondisi ini membuat pemerintah harus mengatur ulang prioritas anggaran. Ekonomi global jangka panjang bisa terganggu akibat ketidakpastian iklim dan penanggulangan bencana.

Jika tidak ada strategi yang matang dalam menghadapi persoalan ini, maka bersiaplah bahwa perekonomian jelas akan terganggu. Bencana seringkali menimbulkan kerugian dari segi materi. UMKM terhenti karena wilayah yang tidak lagi memadai, bahan baku yang sulit didapat karena hancurnya lokasi, dan sejuta faktor penghambat lainnya yang hadir setelah bencana usai.

Oleh karena itu, diperlukan persiapan sebagai bentuk antisipasi dalam menghadapi krisis iklim yang semakin hari semakin sulit ditebak. Investasi pada energi hijau, teknologi pertanian cerdas, dan infrastruktur ramah iklim dapat menjadi pilihan langkah yang tepat.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore