
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Piter Abdullah Redjalam. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com - Prasasti Center for Policy Studies buka suara soal data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pertumbuhan ekonomi Kuartal II-2025 sebesar 5,12 persen yang banyak diragukan dan dinilai janggal.
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Piter Abdullah Redjalam, menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen adalah kabar gembira.
"Surprisingly itu di atas harapan kita, yang di atas ekspektasi kita, dan seluruhnya itu kan berita gembira ya. Jangan dilihat-lihat jadi berita sedih gitu, pertumbuhan 5,12 kok merengut semua, padahal itu kan berita gembira yang seharusnya," kata Piter Abdullah dalam acara 'Peluncuran Laporan Riset Ekonomi Digital Indonesia oleh Prasasti Center for Policy Studies' di Jakarta, Selasa (12/8).
Lebih lanjut, Piter juga menilai bahwa seluruh data-data yang disampaikan BPS masih cukup valid untuk menjadi acuan. Bahkan, ketika angka-angka indikator yang menunjukkan pelemahan konsumsi, ternyata konsumsi tersebut masih tercatat tumbuh.
"Saya kira angka yang disampaikan oleh BPS itu masih cukup, menurut saya cukup valid, cukup reliable untuk kita pakai. Bahwasannya di tengah berbagai gejolak perekonomian, PHK, indikator-indikator yang seperti indeks tingkat peningkatan konsumsi yang turun, tapi konsumsi tidak turun," lanjutnya.
Piter juga membeberkan bahwa konsumi masyarakat itu sifatnya tidak elastis, khususnya bagi kelas menengah. Tetapi konsumsi tersebut akan sangat elastis bagi kelompok bawah.
Sehingga, dengan adanya bantuan sosial (bansos) bagi kelompok bawah, maka tingkat konsumsi akan tetap bertahan. Itu sebabnya, secara keseluruhan konsumsi kelompok menengah atas plus kelompok bawah itu relatif terjaga.
"Dan itulah yang tertampil di dalam datanya BPS, di mana pertumbuhan konsumsi kita masih relatif terjaga, tapi itu tidak cukup tinggi, karena baik itu di turun satu maupun turun dua angkanya masih di bawah 5 persen," bebernya.
Lebih lanjut, ia menilai angka yang dirilis BPS tersebut adalah wajar. Bahkan, ia menilai BPS tidak mengada-ada soal satu komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi, yakni konsumsi masyarakat.
"Menurut saya sih sebagai ekonom, menurut saya itu angka yang wajar untuk tingkat perekonomian kita saat ini. BPS tidak mengada-ada untuk tingkat konsumsi," pungkasnya.
Sumber foto:
Caption:

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
