Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Juli 2025 | 23.55 WIB

Cermati Fenomena Rojali dan Rohana, Dosen Unair: Pedagang Pasar Butuh Inovasi Digital untuk Bertahan

Dosen Universitas Airlangga Yanuar Nugroho dalam forum Sapa Komunitas Indonesia di Studio Jawa Pos Surabaya, Sabtu (26/7). - Image

Dosen Universitas Airlangga Yanuar Nugroho dalam forum Sapa Komunitas Indonesia di Studio Jawa Pos Surabaya, Sabtu (26/7).

JawaPos.com – Pelaku usaha saat ini, khususnya di pasar dan pusat perbelanjaan, dihadapkan dengan fenomena baru. Namanya, rojali (rombongan jarang beli) dan rohana (rombongan hanya nanya). Kendati pusat perbelanjaan tampak ramai, transaksi pembelian justru tak sebanding.

Kondisi itu, dinilai Dosen Universitas Airlangga Yanuar Nugroho, sebagai tanda menurunnya daya beli masyarakat, seiring meningkatnya okupansi di sektor makanan dan minuman. "Orang ke mall atau pasar capek berkeliling hanya untuk jalan-jalan, akhirnya makan. Jadi FnB yang naik, tapi tidak berpengaruh pada transaksi retail-nya," ungkap Yanuar dalam forum Sapa Komunitas Indonesia di Studio Jawa Pos Surabaya, Sabtu (26/7).

Menurut kajian yang dilakukan Unair, saat ini 60 persen angkatan kerja di Indonesia merupakan pekerja informal. Ini menjadi indikator turunnya daya beli masyarakat secara umum. Namun di sisi lain, Yanuar menilai bahwa perubahan ini bisa disiasati terutama bagi pelaku usaha tradisional yang mau beradaptasi.

Salah satu solusi yang disorot adalah digitalisasi pasar tradisional, termasuk melalui penggunaan sistem pembayaran non-tunai. Berdasarkan data yang dipaparkan Yanuar, saat ini sudah ada lebih dari 32,71 juta pedagang pasar tradisional terdaftar menggunakan QRIS.

"Saya memperhatikan kedai di pasar tradisional. Ternyata kios yang paling diminati itu adalah yang menggunakan QRIS. Itu saya alami sendiri. Belanja di pasar tradisional, tapi yang saya pilih ya yang terima pembayaran digital," tuturnya.

Pihaknya bahkan mendorong 188 bisnis mahasiswa Unair untuk mendaftarkan QRIS secara serentak tanpa potongan, sebagai bentuk nyata pemberdayaan ekonomi mikro. "Ternyata ada bank yang bisa support tanpa potongan untuk transaksi sampai Rp 500 ribu. Ini kabar baik bagi pelaku usaha kecil," tambahnya.

Tantangan dan Peluang di Era Disrupsi

Sejumlah tantangan dihadapi pedagang pasar. Mulai daya beli masyarakat, perubahan pola belanja, fluktuasi harga akibat konflik geopolitik, hingga keterbatasan infrastruktur seperti kebersihan dan tempat parkir.

Agar mampu bersaing, Yanuar menyarankan beberapa strategi seperti memanfaatkan teknologi digital semaksimal mungkin. Seperti pemasaran online dan sistem pembayaran modern.

"Sekarang beli bawang sprapat aja sudah tersedia di aplikasi online, bisa diantar. Itu menjadi solusi kala tidak bisa keluar rumah atau sudah terlalu malam," kata Yanuar.

Secara harga, bisa jadi lebih mahal. Tapi banyak konsumen yang membandingkan dengan ketermudahannya.

Pedagang di Pasar Tanah Abang juga pernah dihadapkan dengan anjloknya transaksi. Ramai-ramai menuntut penutupan e-commerce namun tidak juga memberi dampak signifikan terhadap gairah belanja masyarakat untuk kembali ke pasar Tanah Abang.

"Karena teknologi sudah turut berubah sehingga kita dituntut berinovasi. Penjual ngikut karepe konsumen," pungkas Yanuar.

Ada banyak cara lain. Pedagang bisa meningkatkan kualitas layanan dan produk, melakukan diversifikasi seperti penambahan varian dan layanan pengantaran, pengelolaan pasar yang efisien dan bersih, kolaborasi antar pedagang dan komunitas lokal, serta optimalisasi manajemen usaha: inventaris, data pelanggan, hingga loyalitas. Hal ini harus menjadi perhatian bersama antara pemerintah, asosiasi dan pedagang.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore