Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Juni 2025 | 14.41 WIB

Ekonom Bank Mandiri: Surplus Neraca Perdagangan Menyusut, Inflasi Masih Landai

Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/4/2025).  (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/4/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com  - Surplus neraca perdagangan pada April 2025 tampaknya bakal menyusut dari bulan sebelumnya. Sejalan dengan kinerja ekspor yang termoderasi. Inflasi pada Mei 2025 diperkirakan juga akan melandai. 

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memproyeksi surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2025 akan menyusut menjadi sekitar USD 2,70 miliar. Turun dari USD 4,33 miliar di bulan sebelumnya. Kinerja ekspor diperkirakan masih tumbuh 4,6 year-on-year (YoY), meski secara bulanan terkontraksi 11,8 persen.

"Penurunan ekspor secara bulanan disebabkan oleh berlanjutnya moderasi harga komoditas terutama batubara, CPO (crude palm oil), dan nikel. Sementara secara tahunan harga CPO dan baja masih tumbuh positif," kata Asmo kepada Jawa Pos, Kamis (29/5). 

Begitu pula, kinerja impor yang juga diperkirakan masih tumbuh 5,5 persen secara tahunan, tetapi menurun 5,8 persen secara bulanan. Penurunan itu seiring dengan normalisasi permintaan pasca Ramadhan dan Idul Fitri, serta pelemahan aktivitas industri domestik.

"Data PMI (purchasing managers index) manufaktur Indonesia pada April berada di level 46,7, mencerminkan kontraksi aktivitas industri. Selain itu, ada penurunan pembelian bahan baku oleh sektor manufaktur, yang turut menekan kinerja impor," terangnya.

Berdasarkan data perdagangan dari negara mitra utama seperti Tiongkok, India, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang, terlihat adanya penurunan impor dari negara-negara tersebut. Indikator tersebut menunjukkan bahwa pelemahan permintaan global juga turut memengaruhi kinerja ekspor-impor Indonesia.

Asmo juga memperkirakan indeks harga konsumen (IHK) Indonesia akan mencatat deflasi bulanan minus 0,18 persen month-to-month (MtM) pada Mei 2025. Didorong oleh penurunan harga pangan, terutama cabai, akibat pasokan yang melimpah setelah musim panen. Serta normalisasi harga pasca lebaran pada sejumlah bahan pangan bergejolak.

Secara tahunan, inflasi utama diperkirakan melandai menjadi 1,80 persen YoY. Turun dari 1,95 persen pada April 2025. "Tekanan disinflasi ini mencerminkan stabilnya pasokan pangan serta normalisasi permintaan setelah lebaran," ungkap lulusan Georgia State University itu. 

Sementara itu, inflasi inti nampaknya tetap stabil di kisaran 2,50 persen YoY. Mencerminkan inflasi yang masih terkendali di tengah permintaan domestik yang moderat. Data resmi inflasi Mei 2025 akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2 Juni 2025. (han)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore