Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Mei 2025 | 16.55 WIB

Pasar Asia Resilien, Konsumsi Domestik Lesu

Ilustrasi seorang analis tengah mengamati pergerakan harga obligasi di sebuah kantor sekuritas. (Antara) - Image

Ilustrasi seorang analis tengah mengamati pergerakan harga obligasi di sebuah kantor sekuritas. (Antara)

JawaPos.com - Di tengah dinamika global yang terjadi sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal, pasar Asia dinilai masih menunjukkan kinerja resilien. Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja menuturkan, kebijakan tarif AS yang sangat agresif justru diperkirakan lebih berdampak negatif untuk perekonomian AS sendiri.

''Turunnya minat investor terhadap aset AS (tema 'Sell America'), pelemahan USD, serta perkembangan negosiasi tarif dengan beberapa negara Asia menjadi faktor positif yang mendukung minat investor global kembali ke pasar Asia, seperti yang juga terlihat pada tren arus dana ETF,'' ujarnya di Jakarta, Senin (12/5).

Selain itu, Freddy melanjutkan, rilis laporan earnings emiten yang resilien di sektor teknologi – baik di AS maupun Asia – tetap mendukung ekspektasi bahwa pertumbuhan struktural dari sektor Artificial Intelligence (AI) tetap kuat di tengah tensi perdagangan yang meningkat, sehingga menjaga daya tarik investasi pada rantai pasok teknologi di Asia.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Freddy menyebut, pelemahan konsumsi masih terus membayangi dalam negeri. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Maret 2025 merosot ke 121,1 dari sebelumnya 126,4, menunjukkan pesimisme terhadap prospek penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja di masa depan.

Selain itu, penjualan ritel selama kuartal pertama 2025 hanya tumbuh 1 persen dibandingkan pertumbuhan 5,6 persen di periode yang sama tahun 2024. Yang terkini, rilis data pertumbuhan PDB kuartal pertama 2025 menunjukkan momentum ekonomi masih melemah, di mana perekonomian hanya tumbuh 4,87 persen secara tahunan, pertumbuhan terendah sejak kuartal ketiga tahun 2021 ketika Indonesia baru pulih dari pandemi.

''Kondisi ini cukup mengecewakan, terutama karena sudah banyak kebijakan dan stimulus yang digelontorkan di kuartal pertama untuk menopang konsumsi – seperti kenaikan UMR, kenaikan upah ASN, stimulus fiskal kompensasi kenaikan PPN yang tetap diberikan walaupun PPN batal naik – yang sayangnya belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan,'' tutur Freddy.

Ke depan, dia menyebut bahwa perlu dicermati bagaimana langkah-langkah dan kebijakan lanjutan yang diinisiasi pemerintah untuk menopang konsumsi. Kementerian Keuangan menyatakan proses realokasi dan peruntukan APBN sudah diselesaikan, dan mulai kuartal kedua ini diharapkan implementasi belanja pemerintah dapat dikebut untuk menopang aktivitas ekonomi ke depan.

Harapannya, komponen belanja pemerintah di kuartal-kuartal berikutnya tidak lagi terkontraksi seperti yang terjadi di kuartal pertama (turun 0,08 persen, dibandingkan pertumbuhan 4,17 persen di kuartal terakhir 2024), dan menciptakan efek berantai pada pertumbuhan ekonomi keseluruhan.

Freddy menuturkan, ada lima potensi katalis yang diharapkan bisa mendorong kinerja ekonomi dalam negeri. Kelima katalis itu adalah win-win tariff negotiation, stabilitas Rupiah, penurunan BI Rate, akselerasi belanja pemerintah, dan stabilitas harga minyak dunia. ''Kelima hal ini saling terkait dan berhubungan,'' imbuh dia.

Dari pasar finansial, Freddy menyebut ada beberapa dinamika. Untuk kelas aset obligasi, beberapa faktor terpenting yang menentukan minat investor adalah persepsi risiko kredit, stabilitas nilai tukar, dan arah suku bunga. ''Dari potensi-potensi katalis yang telah kami sampaikan, dapat disimpulkan daya tarik pasar obligasi saat ini masih tetap tinggi,'' tuturnya.

Peluang dan urgensi penurunan suku bunga terlihat semakin terbuka, nilai tukar Rupiah mulai stabil, penilaian terakhir dari dari Fitch & Moody’s bulan Maret lalu juga tetap mengafirmasi sovereign rating Indonesia di kategori layak investasi 'BBB' dengan outlook stabil. Inilah yang membuat minat investor domestik tetap kokoh, dan minat investor asing pun relatif terjaga dengan arus masuk bersih tahun berjalan mencapai USD 1,26 miliar, dibandingkan arus keluar USD 2,73 miliar di periode yang sama tahun 2024 lalu.

Sementara itu di kelas aset saham, setelah empat bulan terakhir mengalami volatilitas ekstrem diakhiri koreksi tajam, perkembangan-perkembangan global terkini membuat kinerja pasar saham melejit kembali, walaupun kesinambungannya masih terlihat rentan.

Eksekusi kebijakan pro pertumbuhan dan transisi belanja pemerintah yang tepat sasaran sangat kita harapkan untuk dapat mendorong konsumsi dan daya beli masyarakat, dan pada akhirnya memperbaiki kinerja korporasi.

Potensi pemangkasan suku bunga – walaupun dampaknya tidak seinstan seperti pada pasar obligasi – diharapkan dapat semakin mendorong stabilitas dan kesinambungan kinerja pasar saham jangka panjang, terutama karena iklim suku bunga tinggi merupakan salah satu faktor utama yang menekan performa korporasi dan sentimen pasar.

Terakhir, meningkatnya daya tarik pasar Asia di tengah melemahnya supremasi AS diharapkan sedikit banyak dapat berimbas baik juga ke pasar saham Indonesia. 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore