Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Mei 2025 | 22.15 WIB

Perlambatan Ekonomi RI, Yose Rizal Damuri: Persiapkan Diri untuk Tantangan ke Depan

Pengamat Ekonomi sekaligus Executive Director CSIS Yose Rizal Damuri saat ditemui disela acara 2nd Innovation Summit Southest Asia and Premier Launch of The 2025 Trade Barrier Index, Selasa (6/5). - Image

Pengamat Ekonomi sekaligus Executive Director CSIS Yose Rizal Damuri saat ditemui disela acara 2nd Innovation Summit Southest Asia and Premier Launch of The 2025 Trade Barrier Index, Selasa (6/5).

JawaPos.com - Pengamat Ekonomi sekaligus Executive Director Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri buka suara soal perlambatan ekonomi Republik Indonesia (RI) yang hanya mencapai 4,87 persen pada Kuartal I-2025, lebih rendah dibandingkan dengan Kuartal I-2024 yang tumbuh 5,11 persen. 

Yose mewanti-wanti pemerintah untuk lebih mempersiapkan diri lantaran ke depan ekonomi RI diprediksi akan lebih mengkhawatirkan lagi. Pasalnya ia menilai bahwa perlambatan ekonomi terjadi sebelum adanya gonjang-ganjing imbas kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. 

"Ini (perlambatan ekonomi) sebelum gonjang ganjing yang ada di tingkatan eksternal dan itu juga sudah ditopang juga dengan ramadhan serta lebaran, tapi ternyata memang ada pelemahan seperti itu, jadi kelihatannya ke depan masih agak lebih mengkhawatirkan lagi," kata Yose saat ditemui disela acara 2nd Innovation Summit Southest Asia and Premier Launch of The 2025 Trade Barrier Index di Jakarta, Selasa (6/5). 

Dia menjelaskan, hal yang perlu diantisipasi pemerintah yakni dampak dari ekspor karena dengan pelemahan yang ada di tingkatan global akan otomatis berdampak pada penurunan harga-harga komoditas. Padahal, kata Yose, ada banyak pemasukan RI yang berasal dari komoditas. 

"Dan itu tentunya akan berpengaruh juga kepada ekspor kita yang akhirnya juga menurunkan lebih jauh lagi pertumbuhan ekonomi RI. Jadi ini belum ada apa-apanya nih kelihatannya," jelasnya. 

"Jadi, memang perlu pegangan lebih erat lagi, lebih keras lagi. Permasalahannya di dalam ekonomi kita, internal sendiri itu tidak terlalu kelihatan menjanjikan," sambung Yose. 

Lebih lanjut, Yose juga membeberkan jika pada tahun 2008 atau 2012 ketika ada krisis Indonesia masih disebut Komodo Dragon Economy atau Komodo Ekonomi karena memiliki kulit tebal dan resilience. 

"Tetapi ternyata sekarang ini enggak terlalu, kita punya masalah. Punya masalah bukan hanya di dalam pertumbuhan tadi, tetapi juga di dalam fiskal. Misalnya, sampai sekarang kita nih enggak punya APBN loh sebenarnya," beber Yose.

"APBN yang tahun kemarin itu kan sudah diubah berbagai macam alokasinya, efisiensi dengan efisiensi perubahan-perubahan relokasi-relokasi yang ada itu kan artinya sebenarnya mengubah APBN, tapi sampai sekarang belum ada APBN yang baru, mata-mata pengeluarannya belum kelihatan kemudian dari sisi moneter juga kita bisa lihat," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore