Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Mei 2025 | 05.27 WIB

Resesi Teknikal Mengintai, Ekonom Minta Pemerintah Genjot Belanja dan Investasi

Buruh saat berunjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Rabu (12/10/2022). Partai Buruh dan sejumlah organisasi serikat buruh menggelar aksi unjuk rasa yang diadakan secara serentak di seluruh Indonesia.Tuntutan massa buruh di antaranya menolak kenaikan - Image

Buruh saat berunjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Rabu (12/10/2022). Partai Buruh dan sejumlah organisasi serikat buruh menggelar aksi unjuk rasa yang diadakan secara serentak di seluruh Indonesia.Tuntutan massa buruh di antaranya menolak kenaikan

JawaPos.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2025 mencerminkan perlambatan yang telah diperkirakan sebelumnya. Terutama oleh berbagai indikator awal yang menunjukkan pelemahan permintaan domestik dan tekanan eksternal.

Evaluasi terhadap capaian ini mengungkap bahwa tekanan terhadap daya beli masyarakat dan lemahnya belanja investasi menjadi faktor utama di balik pelemahan tersebut. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengungkapkan adanya gejala resesi teknikal pada triwulan berikutnya.

Secara kuartalan angkanya cukup mengkhawatirkan. Pertumbuhan triwulan I 2025 minus 0,98 persen, terendah dibandingkan periode yang sama sejak lima tahun terakhir.

"Sektor industri pengolahan yang tertekan menjadi sinyal berlanjutnya tekanan ekonomi. Skenario resesi teknikal harus dihindari," ucap Bhima, Senin (5/5).

Konsekuensi dari sinyal resesi teknikal, lanjut dia, industri pengolahan akan cenderung mengurangi pembelian bahan baku. Serta melakukan efisiensi berbagai biaya produksi termasuk tenaga kerja.

Pertumbuhan sektor industri pengolahan non-migas di triwulan I 2025 hanya 4,31 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan triwulan I tahun sebelumnya yang masih tumbuh sebesar 4,64 persen.

Indikator Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia juga berada di bawah level ekspansi atau 46,7 pada April 2025. Sehingga perlu jadi perhatian pemerintah. Tekanan akibat adanya perang dagang hanya salah satu faktor pemicu industri berada dibawah kapasitas optimalnya.

"Tapi di dalam negeri, efek industri melemah ibarat lingkaran setan (vicious cycle), menciptakan pelemahan daya beli lebih dalam berujung pada menurunnya permintaan produk industri," beber lulusan University of Bradford itu.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mendorong pemerintah untuk mengakselerasi realisasi belanja APBN dan APBD. Terutama pada kuartal II dan III 2025.

Selain itu, dengan investasi domestik dan asing yang masih tumbuh 15,9 persen YoY, momentum ini harus dijaga. Baik el melalui penyederhanaan regulasi, pemberian insentif, dan menghindari ketidakpastian kebijakan.

"Sektor-sektor yang patut didorong lebih lanjut mencakup industri logam dasar dan hilirisasi, transportasi-logistik, serta sektor pariwisata dan makanan-minuman yang tetap tumbuh tinggi, meski ada tekanan di sektor akomodasi," terang Josua kepada Jawa Pos.

Dari sisi kebijakan moneter, ada ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga acuan. Dengan catatan jika tekanan eksternal mereda dan The Federal Reserve (The Fed) benar-benar mulai menurunkan suku bunga.

"Ini penting untuk merangsang kredit konsumtif, yang saat ini berpotensi lesu seiring pelemahan daya beli," imbuhnya.

Sektor perbankan perlu lebih selektif dalam menyalurkan kredit konsumsi. Terutama dengan menargetkan segmen yang tetap resilien, seperti kelompok pendapatan menengah-atas. Serta melirik sektor-sektor yang tidak memiliki ketergantungan besar terhadap pasar ekspor.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore