Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Agustus 2024 | 18.56 WIB

Akses Penyandang Disabilitas Perkembangan di Dunia Kerja Perlu Dibuka Lebih Luas

 

Project Member and Director of LSPR Center for Research and Community Service Rudi Sukandar (kanan) di Jakarta (22/8). (Hilmi/Jawapos)

 
 
 
JawaPos.com – Kesetaraan akses bagi para penyandang disabilitas, khususnya disabilitas perkembangan di Indonesia masih belum ideal. Khususnya di sektor lapangan pekerjaan. Indonesia perlu mencontoh di Jepang, yang membuka akses pekerjaan cukup luas bagi kelompok disabilitas.
 
Sorotan terhadap akses penyandang disabilitas di dunia pekerjaan itu, dibahas dalam peluncuran tiga buku mengenai disabilitas perkembangan di kampus LSPR Jakarta pada Kamis (22/8). Ketiga buku itu mengulas tentang kondisi terkini dan isu kebijakan mengenai disabilitas.
 
Kemudian tentang panduan bagi orang tua yang memiliki anak disabilitas perkembangan. Lalu yang ketiga buku tentang pengembangan panduan berbasis komunitas.
 
Project Member and Director of LSPR Center for Research and Community Service Rudi Sukandar menceritakan buku-buku itu berupaya memotret kondisi disabilitas perkembangan di negara-negara Asia Tenggara. Kemudian dibandingkan dengan layanan serupa di Jepang.
 
"Kita lihat bagaimana di Jepang. Kemudian kita juga lihat di Vietnam, Filipina, termasuk juga di Indonesia," katanya.
 
Rudi menuturkan masih banyak tantangan yang harus dihadapi, untuk menghadirkan kesetaraan akses bagi para penyandang disabilitas. Sehingga bisa mendapatkan akses yang setara, termasuk di tempat kerja.
 
"Di Jepang ada aturan yang menyebutkan perusahaan harus membuka sekian persen kesempatan kerja bagi kelompok disabilitas," tuturnya.
 
Di Indonesia sejatinya juga ada kebijakan serupa. Tetapi masih belum maksimal dalam implementasinya.
 
Rudi mengatakan dibukanya kesempatan bekerja bagi para penyandang disabilitas, perlu ditata sejak hulu. Diantaranya lewat penguatan pada layanan pendidikan yang bersifat inklusif.
 
Kemudian juga dibuka pusat-pusat pendidikan dan pelatihan bagi kelompok disabilitas. Sehingga mereka benar-benar siap untuk masuk ke bursa kerja.
 
Dalam buku tersebut disampaikan beberapa area perbaikan layanan disabilitas di Indonesia. Diantaranya adalah penilaian serta diagnosis sejak dini. Kemudian praktik baik untuk penanganan penyandang disabilitas, seperti sertifikasi bagi para terapis, keterlibatan orang tua, serta peningkatan ketersediaan layanan.
 
Rekomendasi berikutnya meningkatkan kualitas pendidikan inklusif. Seperti peningkatan kompetensi guru kebutuhan khusus, layanan konseling, serta lingkungan sosial yang aman. Kemudian juga jaminan peluang kerja bagi penyandang disabilitas yang baik.
 
Dalam kesempatan yang sama Founder & CEO LSPR Institute of Communication & Business Prita Kemal Gani mengatakan ketiga buku tersebut berdasarkan riset di lapangan. Salah satu tujuannya untuk memberikan panduan bagi orang tua, termasuk negara atau pemerintahan dalam memberikan pelayanan kepada kelompok disabilitas.
 
"Apa saja kisah suksesnya, apa yang jadi kendala, termasuk tantangan-tantangannya," pungkasnya.
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore