
Menhan Prabowo Subianto (tengah), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri), Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan berbincang sebelum Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (24/6/24).
JawaPos.com - Pengamat ekonomi sekaligus Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengaku optimistis target pertumbuhan ekonomi presiden terpilih Prabowo Subianto dalam masa pemerintahannya bisa mencapai target 8 persen. Menurutnya, Indonesia memiliki prasyarat untuk menjadi negara dengan ekonomi yang tinggi dengan potensi kekayaan dan sumber daya alam yang melimpah.
"Kita semua sebenarnya, seharusnya sama optimisnya, secara kalau dilihat dari prasyarat untuk tumbuh tinggi kita memiliki semua prasyarat itu," ujar Piter, Rabu (24/7).
Piter menambahkan potensi kekayaan Indonesia ada sejak zaman presiden pertama Soekarno atau Bung Karno. Namun potensi saja tidak cukup jika pemerintah tidak memiliki kemampuan dan inovasi untuk mengelolanya untuk kemakmuran masyarakat.
"Cuma kan kondisi kalau dilihat dari potensi kan dari dulu tidak berbeda dari zamannya Bung Karno bahkan potensi kita masih gede-gedenya, kita ini negara kaya kalau kata lagunya Koes Plus kita ini kolam susu apa saja kita punya," ucapnya.
"Jadi, tidak ada alasan sebenarnya kita tidak bisa tumbuh tinggi, tapi kenyataannya selama ini kan kita tidak tumbuh tinggi berarti tidak cukup dengan potensi," tambahnya.
Lanjut Piter untuk mewujudkan target tersebut, Prabowo harus memiliki terobosan dan strategi yang tepat untuk mendongkrak perekonomian yang fantastis itu. "Benar kita punya potensi, benar kalau kita itu mampu untuk tumbuh 8 persen, tetapi pertanyaannya adalah 'how' kita mewujudkan pertumbuhan 8 persen tersebut? Itu yang kita tunggu jawabannya dari Presiden Prabowo nantinya," kata Piter.
Prabowo, kata Piter, harus berani mengevaluasi dan mengoreksi kebijakan ekonomi yang selama ini baru tumbuh sekitar 5 persen. "Harus ada evaluasi dulu koreksi dulu terhadap apa yang sudah terjadi selama ini, karena potensi itu ada sudah dari dulu kalau sampai sekarang itu kita tidak mampu untuk tumbuh tinggi itu berarti dalam kebijakan ekonomi kita selama ini ada yang salah," ungkapnya.
"Itu harus berawal dari sana pengakuan terhadap kesalahan kebijakan ekonomi itu yang harus menjadi titik awal untuk kita tumbuh tinggi, tanpa pengakuan terhadap kesalahan kebijakan di masa lalu yang artinya kita tidak melakukan kebijakan kita tidak mungkin bisa tumbuh 8 persen," sambungnya.
Bahkan Piter mengatakan Indonesia bisa tumbuh di atas 10 persen jika pemerintahan berikutnya mampu memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia saat ini. "Secara potensi untuk tumbuh di atas 10 persen pun mungkin, tetapi 'how'-nya itu yang belum kita dengar, secara potensi kita punya memungkinkan tetapi selama kita tidak ada koreksi terhadap kebijakan perekonomian kita yang lama ya kita tidak mungkin untuk tumbuh mewujudkan apa yang menjadi potensi kita," ucapnya.
Piter berpendapat mengenai ekonomi global yang masih suram dan konflik perang yang berkepanjangan tidak akan banyak mempengaruhi ekonomi Indonesia, sebab pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang oleh sektor dari dalam negeri seperti investasi dan tingkat konsumsi rumah tangga.
“Gak masalah sebenarnya perekonomian kita itu tidak terlalu bergantung kepada global, dulu kita terpengaruh oleh global tetapi bukan berarti sepenuhnya tergantung kepada global. Contoh misalnya di tengah kondisi sekarang ini India tumbuh tinggi artinya dengan kebijakan yang tepat, apalagi kita tahu struktur ekonomi kita pertumbuhan ekonomi kita lebih dipengaruhi oleh domestic demand, artinya kita lebih dipengaruhi oleh kondisi dalam negeri,” terangnya.
Ditekankan Piter yang terpenting adalah bagaimana manajemen pemerintah mengelola potensi dan kekayaan dalam negeri dengan tepat. "Berarti itu sesuatu yang manageable di dalam kontrolnya pemerintah, pemerintah bisa untuk memacu pertumbuhan ekonomi memanfaatkan pengelolaan domestic demand-nya," katanya.
"Jadi, walaupun kondisi global itu suram tidak support bukan berarti kita tidak bisa mewujudkan pertumbuhan di atas 8 persen, kembali lagi adalah bagaimana kita mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi selama ini dan melakukan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi masa lalu," lanjut Piter.
Selain itu, kata Piter, salah satu musuh dari penghambat pertumbuhan ekonomi adalah masalah inefisiensi, hal itu yang menurutnya harus dibenahi terlebih dahulu. "Penyakit ekonomi kita itu adalah inefisiensi, yang kemudian salah satu indikatornya adalah biaya ekonomi tinggi ICOR kita sangat besar, nah tanpa ada upaya kita untuk memperbaiki inefisiensi ini menurunkan ICOR akan sangat sulit, karena kalau itu ICOR-nya masih segede ini," tukasnya.
Sebelumnya, presiden terpilih Prabowo Subianto menyampaikan target pencapaian angka pertumbuhan ekonomi itu dalam acara peluncuran Geoportal One Map Policy 2.0. dan White Paper OMP Beyond 2024 di St. Regis, Jakarta Selatan, Kamis (18/7).

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
