
BELUM PRODUKSI DALAM NEGERI: Pengunjung melihat instalasi baterai mobil listrik di Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2023, ICE BSD City, Tangerang, Banten, Jumat (11/8).
Hilirisasi nikel memberikan efek domino pada pengembangan kendaraan listrik (EV) di RI. Namun, salah satu kendala menuju transisi adalah harga yang mahal. Penyebabnya, ongkos produksi yang tinggi, termasuk pembuatan baterai sebagai penyimpan energi.
KETUA I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto menyebutkan, bukan kali pertama pelaku usaha otomotif mengusulkan kepada pemerintah untuk memproduksi baterai di dalam negeri. Karena itu, harga jual kendaraan listrik bisa lebih kompetitif.
”Kita menyambut baik tentu dengan adanya upaya pemerintah. Misalnya, pembangunan smelter dan lain-lain dari tambang nikel. Nanti bisa diolah menjadi lithium sehingga kita nanti memproduksi baterai mobil listrik. Adanya perusahaan IBC (Indonesian Battery Corporation) kita harapkan dalam beberapa tahun ke depan bisa memproduksi baterai mobil listrik,” beber Jongkie.
Jongkie mengungkapkan, baterai mobil listrik menyumbang 40 persen dari total harga kendaraan listrik. Dia mencontohkan, bila harga EV dibanderol Rp 800 juta, Rp 350 juta di antaranya merupakan baterai.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam menambahkan, Indonesia harus memanfaatkan potensi-potensi besar otomotif di era elektrifikasi dari hulu sampai hilir secara saksama dalam sebuah strategi kebijakan dan pengembangan industri terintegrasi yang memungkinkan percepatan semua teknologi elektrifikasi.
Menurut Bob, di hulu, RI memiliki berbagai sumber daya alam, baik untuk pengembangan baterai maupun bauran energi. Di hilir, pasar otomotifnya terbesar di Asia Tenggara. ”Kepentingan seluruh shareholder dan stakeholder, mulai tingkat pemerintah, akademisi, industri, hingga pasar, harus dilibatkan,” tegasnya.
Kolaborasi tersebut, lanjut Bob, akan mendorong terciptanya strategi yang komprehensif guna mengakomodasi beragam kebutuhan kendaraan elektrifikasi maupun mobil ramah lingkungan lainnya dengan tetap memperhatikan tujuan dekarbonisasi dan tetap memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
”Dengan memiliki potensi cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia berpotensi menjadi produsen utama produk-produk barang berbasis nikel seperti baterai kendaraan elektrifikasi. Artinya, Indonesia memiliki kesempatan yang besar untuk mengembangkan industri baterai yang notabene menjadi salah satu ekosistem utama dari industri elektrifikasi,” bebernya.
Selain itu, sambung Bob, pengembangan baterai elektrifikasi akan meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan industri turunan yang menggunakan bahan baku baterai. Penguasaan pengembangan baterai merupakan salah satu komponen penting dalam penciptaan posisi Indonesia sebagai yang terdepan di era elektrifikasi.
”Pengembangan industri baterai tentu membutuhkan penciptaan pasar. Sehingga dapat menarik lebih banyak investasi dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen baterai penting di pasar global,” pungkasnya. (agf/c12/dio)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
