
Menteri Keuangan Sri Mulyani - (Jawa Pos)
JawaPos.com - Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 tercatat minus 5,32 persen. Resesi menanti jika capaian kuartal III kembali negatif.
Tidak dimungkiri, pandemi Covid-19 telah memukul perekonomian dunia. Belasan negara mengumumkan resesi. Sebut saja Amerika Serikat, Prancis, Korea Selatan, Singapura, dan Thailand.
Namun, tidak semua mengalami kemerosotan ekonomi. Tiongkok, negara asal virus penyebab korona, justru selamat dari jurang resesi. Tiongkok mampu membalikkan roda ekonominya yang sempat tergelincir minus 6,8 persen pada kuartal I 2020 menjadi tumbuh 3,2 persen di kuartal II 2020.
Bagaimana dengan Indonesia?
Pertumbuhan ekonomi kuartal II menjadi noda setelah rangkaian catatan positif dua dekade terakhir. Dengan angka minus 5,32 persen, itu merupakan capaian terendah sejak krisis 1998. Pada 1998 pertumbuhan ekonomi tercatat -13,13 persen dan menjadi 0,79 persen setahun kemudian.
Baca juga: Potensi Tumbuh Negatif, Indonesia Dibayangi Ancaman Resesi
Di bawah ancaman resesi, pemerintah terus menggelorakan optimisme. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahkan membantah RI mengalami resesi teknikal. Dikatakan resesi apabila pertumbuhan ekonomi suatu negara tercatat negatif dalam dua kuartal berturut-turut.
Nah, pada kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi RI 4,97 persen. Namun, itu tidak berarti aman. ”Kalau kuartal III kita bisa hindarkan (dari pertumbuhan negatif, Red), insya Allah secara teknikal kita tidak mengalami resesi,” ujar Sri Mulyani.
Peluang lolos dari resesi tetap ada. Mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut yakin ekonomi ke depan bisa merangkak naik. ”Kuartal III kita masih berharap growth-nya minimal 0 persen atau positifnya di 0,5 persen. Meski memang probabilitas negatif masih ada karena penurunan di beberapa sektor tidak secara cepat pulih kembali,” paparnya.
Anggaran jumbo untuk pemulihan ekonomi yang mencapai Rp 695,2 triliun diharapkan dapat mengurangi tekanan di kuartal II agar terjadi pemulihan pada kuartal III.
Baca juga: Ekonomi Mulai Membaik, Neraca Dagang Catat Surplus
Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani juga masih optimistis perekonomian Indonesia bisa kembali ke jalur positif meski harus dengan upaya ekstra. Dibandingkan dengan negara-negara lain yang terjerumus dalam resesi, Indonesia masih bisa berharap pada konsumsi domestik. Berbeda halnya dengan Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, Singapura, dan Hongkong yang masih mengandalkan aktivitas perdagangan luar negeri.
Rektor Universitas Paramadina Firmanzah menuturkan, pertumbuhan ekonomi di kuartal III akan menjadi pertaruhan. ”Ini kan sudah separo jalan. Jadi, sisa waktu 1,5 bulan lagi untuk menutup kuartal III, pemerintah harus all-out,” tuturnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=f3W1HSPFg_Y
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Pembangunan Gereja di Citraland Surabaya Ditolak Warga, Ternyata karena salah soal Perizinannya
Jadwal Siaran Langsung Sabah FC vs Persib Bandung di Dewata Challenge Series 2026: Live di Indosiar
5 Weton Aras Kembang yang Bisa Memikat Lawan Jenis karena Kharismatik danMempesona Menurut Primbon Jawa
