
ILUSTRASI TIKTOK - PEXELS
JawaPos.com - TikTok datang menjadi pesaing e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee di Indonesia. Media sosial asal Tiongkok itu merancang Tiktok Shop, tempat pengguna untuk berbelanja barang yang dibutuhkan langsung di dalam aplikasi.
Wakil Kepala Kajian Ekonomi Digital dan Ekonomi Tingkah Laku LPEM FEB UI Prani Sastiono turut memperhatikan kehadiran Tiktok Shop dalam kancah ekonomi digital Indonesia belakangan ini.
Menurut Prani Sastiono, praktik jual-beli barang yang dilakukan dalam platform media sosial atau social commerce cukup besar di Indonesia. Namun, sebagian besar dari value ekosistem digital datang dari e-commerce, bukan dari social commerce.
"Karena memang kalau kita liat di sini e-commece sudah mature. Jadi kalau social commerce mungkin ada masalah dari consumer protection, mungkin dari segi jenis usahanya," ujanya dalam segmen Profit di CNBC Indonesia, Selasa (24/1).
Dari sisi e-commerce, soal formalitas dan legalitas sudah diakomodasi lewat fitur seperti Mall atau Official Account. Di mana paling tidak ada jaminan aman bagi masyarakat untuk membeli suatu barang dengan value atau nilai tinggi
Artinya, jika nilai suatu produk cukup tinggi, pembeli tidak merasa cukup aman dengan belanja di social commerce, mereka akan memilih e-commerce. Di sini lah akan tercipta kompetisi untuk segmen produk tertentu
Karakteristik pembeli TikTok Shop
"Ada juga soal usia, mereka yang menggunakan Tiktok itu yang lebih muda dengan karekteristik pembelian produk yang segmented nilai produk juga tidak sebesar melalui e-commerce," tuturnya.
Jika ditanya apa yang bisa dilakukan e-commerce supaya bisa bersaing, ia mengatakan untuk melihat apa yang menjadi keunggulan mereka, misalnya dari kenyamanan konsumen.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina idEA Rudiantara berpendapat bahwa Tiktok lebih atraktif. Buktinya banyak anak muda yang menggunakan platform itu di mana saja sebagai pengguna e-commerce.
"Karena sifatnya live dan kontennya lebih bagus, berbeda dengan platform lain yang besar itu kan tidak ada konten, itu barangkali yang menarik," ucapnya.
Dia setuju dengan pernyataan Prani, di mana social commerce itu tersegmentasi dari sisi pasar maupun jenis produk.
"Ini seperti tahun 2016, di mana ada orang beli barang pakai FB (Facebook), jualan lewat FB, tidak menganggu e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, jadi co-exists. Kalau saya lihatnya demikian fenomena Tiktok," kata Rudiantara.
Lebih lanjut soal persaingan antara social commerce dan e-commerce, ini harus dilihat dari kelas suatu aplikasi. E-commerce yang sudah punya nama seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Blibli, satu bulan TPV-nya (Total Processing Value) sudah mencapai di atas US$1 miliar.
Nasib e-Commerce Kecil
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
