Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Januari 2020 | 05.55 WIB

Jumlah Simpanan Meningkat, Rekening di Atas Rp 2 Miliar Tambah Banyak

Ilustrasi: uang. (Dok JawaPos.com) - Image

Ilustrasi: uang. (Dok JawaPos.com)

JawaPos.com – Jumlah rekening dan nominal simpanan pada 111 bank umum per November 2019 terus menanjak. Berdasar data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), total rekening simpanan per November 2019 mencapai 301.586.727 atau naik 4.301.178 (1,45 persen) dibandingkan posisi Oktober 2019.

"Secara tahunan atau year-on-year (YoY) jumlah rekening per November juga naik 11,01 persen," papar Sekretaris LPS Muhammad Yusron.

Dari segi nominal, simpanan di bank umum per November 2019 juga meningkat 0,65 persen secara month-to-month (MtM). Dari Rp 6.003 triliun pada Oktober 2019 menjadi Rp 6.042 triliun pada November 2019.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, total nominal simpanan itu tumbuh 6,55 persen secara YoY. "Posisi simpanan November 2018 sebesar Rp 5.671 triliun," katanya.

Terkait jumlah saldo, sampai akhir November 2019 untuk simpanan dengan nilai saldo sampai Rp 2 miliar, jumlah rekeningnya meningkat 1,45 persen secara bulanan. Jumlah nominal simpanannya juga naik 0,71 persen secara MtM.

Dari posisi akhir Oktober 2019 sebesar Rp 2.601 triliun menjadi Rp 2.619 triliun pada akhir November 2019. Untuk simpanan dengan saldo di atas Rp 2 miliar, jumlah rekeningnya naik 0,73 persen secara bulanan.

Peneliti Indef Bhima Yudhistira menuturkan, adanya indikasi kenaikan simpanan merupakan langkah antisipasi masyarakat terkait tantangan ekonomi 2020. Kenaikan cukai rokok, tarif BPJS Kesehatan, dan penyesuaian tarif tol membuat masyarakat cenderung berhemat.

"Perilaku saving atau menyimpan uang di bank ini juga seiring dengan rendahnya inflasi," jelasnya.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) terus memperluas elektronifikasi sistem pembayaran. Seiring implementasi Quick Response Indonesia Standard (QRIS) Rabu (1/1), elektronifikasi sistem pembayaran semakin mudah. Sebab, standar QR code itu akan memperluas akseptasi dan interoperabilitas transaksi digital.

Sebelumnya, pada akhir tahun lalu (31/12), penyelenggara jasa sistem pembayaran harus menyesuaikan atau melakukan transisi sistem QR code-nya dengan QRIS. Kepala Kantor Perwakilan BI Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan, elektronifikasi sistem pembayaran adalah upaya mendukung program Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT).

"Kita harus memfasilitasi pembentukan cashless society," ujarnya.

Sudah banyak capaian yang diraih dengan elektronifikasi pembayaran. Per Oktober tahun lalu, uang elektronik tumbuh 61,08 persen secara YoY. BI juga memfasilitasi elektronifikasi transaksi pemda melalui e-retribusi serta bantuan operasional sekolah (BOS) online. Bantuan sosial (bansos) juga disalurkan secara nontunai dengan penyaluran mencapai Rp 6,7 triliun.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore