
Petugas saat mengevakuasi bus TransJakarta yang mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raden Inten Jakarta Timur, Jumat (11/2/2022). Bodi depan bus tersebut tampak ringsek karena menghantam separator busway dan keluar badan jalan. Foto: Dery Ridwansah/ Jaw
JawaPos.com - Para pengusaha warteg mulai cemas saat dikabarkan bahwa para pengrajin tahu dan tempe akan mogok berproduksi. Aksi mogok tersebut merupakan respons dari tingginya harga kedelai di pasar. Padahal, tahu dan tempe merupakan bahan makanan yang wajib tersedia dalam menu warteg.
“Kami dikasih tahu minggu depan, mulai Senin sampai Rabu mogok produksi. Artinya dari Senin, Selasa, Rabu, nggak ada (tahu dan tempe),” kata Ketua Koordinator Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni saat dihubungi oleh JawaPos.com, Sabtu (19/2).
Mukroni mengaku, meski hingga saat ini harga tahu dan tempe belum ada kenaikan namun perlu diwaspadai juga oleh para pedagang kecil seperti warteg dan pedagang gorengan. Mukroni menyebut, jika nanti harga tahu dan tempe menjadi mahal, maka para pedagang mungkin akan menyiasatinya dengan memperkecil ukuran. Sebab, tidak mungkin warteg menaikkan harga jual ke pelanggan.
“Kasihan pedagang dari kondisi mengencangkan ikat pinggang. Kita mau menaikkan juga nggak bisa jadi siasati mengecilkan dan menipiskan ukuran seukuran ATM,” tuturnya.
Menurutnya, makanan lauk-pauk yang disediakan di warteg umumnya menyesuaikan daya beli pelanggan. Sehingga menu bahan baku tahu dan tempe yang ada pada sayuran maupun gorengan wajib ada. Sebab saat ini untuk menyediakan menu daging peminatnya kurang.
“Kan kita nggak jual daging seperti rendang karena pandemi daya beli kurang. Paling makanan yang bisa dibeli sekitar Rp 10.000-an. Karena pelanggan uangnya nggak ada,” ucapnya.
Jika para pedagang warteg membeli banyak persediaan tahu dan tempe sebelum pengrajin berhenti produksi juga tidak akan efektif. Sebab, jika terlalu lama disimpan rasanya menjadi tidak enak. Sementara tahu dan tempe harus cepat dimasak dalam keadaan segar.
"(Tahu dan tempe) kalau terlalu lama disimpan jadi tidak enak. Misal beli di Minggu lalu dimasak Rabu, rasanya kurang enak. Tahu dan tempe harus cepat disajikan. Jadi beli hari ini ya dimasak hari ini juga," ucapnya.
Mukroni menambahkan, saat ini para pedagang warteg masih tertatih-tatih. Meski ada pelonggaran kebijakan terkait jam operasional, namun harga bahan baku makanan naik. Seperti soal minyak goreng dengan harga terjangkau yang ditetapkan pemerintah masih langka.
“Kita omzet masih tertatih-tatih. Harga minyak juga lagi begini. Bahan baku sesuai harga pemerintah susah. Katanya penjual minyak (yang sudah telanjur beli dengan harga tinggi), rugi jualnya,” pungkasnya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
