
KONSERVASI AIR: Triyono Prijosoesilo selaku Wakil Ketua Pelaksana Coca Cola Foundation Indonesia (berkaos merah) bersama Firdaus Ali, Staf Khusus Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Bidang Sumber Daya Air usai meresmikan embung, Kamis (19/4).
JawaPos.com - PT Coca Cola membangun dua embung di wilayah eks Karesidenan Surakarta, yakni di Desa Doho, Girimarto, Wonogiri dan Embung Banyu Kuwung yang berlokasi di kawasan Candi Sukuh, Karanganyar.
Pembangunan dua embung ini sebagai bentuk komitmen PT Coca Cola dalam mendukung konservasi air. Dua embung dengan nilai proyek mencapai Rp 2,3 miliar tersebut diresmikan, Kamis (19/4).
Triyono Prijosoesilo selaku Wakil Ketua Pelaksana Coca Cola Foundation Indonesia menjelaskan, pembangunan embung ini merupakan konsep baru dalam menjaga lingkungan. Sebelumnya, Coca Cola lebih fokus ada pembangunan sumur resapan. Dan sampai dengan saat ini, Coca Cola Foundation sedikitnya sudah membangun 24 ribu sumur resapan yang ada di seluruh Indonesia.
"Dan sekarang kami menggandeng Yayasan Obor Tani untuk membangun embung. Kami ingin mengembalikan setiap tetes air yang kami gunakan ke alam," terangnya kepada JawaPos.com usai meresmikan embung Doho, Kamis (19/4).
Lebih lanjut Triyono mengatakan, pembangunan embung ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat sekitar. Terutama untuk kebutuhan pertanian. Mengingat, selama ini para petani di daerah Wonogiri sering kesulitan air saat musim kemarau tiba.
Triyono berharap, dengan adanya embung ini para petani tidak akan lagi kesulitan air. "Pemilihan lokasi ini karena hasil survei yang kami lakukan daerah ini begitu membutuhkan. Selain itu, ini kan baru awal jadi tempat ini kami pilih karena lebih dekat, jadi mudah untuk melakukan pengawasan," katanya.
Dua embung tersebut memiliki kapasitas yang berbeda. Embung Doho dibangun di atas lahan seluas 1,5 hektare dengan daya tampung air mencapai 15 juta meter kubik. Dan embung ini menjadi embung terbesar di Jawa Tengah (Jateng). Sedangkan untuk embung Banyu Banyu Kuwung dibangun di atas lahan seluas 600 meter persegi dengan daya tampung mencapai 6.000 meter kubik.
"Embung Doho mampu mengairi sawah 10 hektare atau perkebunan lebih dari 30 hektare. Sedangkan yang Banyu Kuwung mampu mengairi perkebunan dengan luas 7,5 hektare," tandasnya.
Sementara itu Gatot Adjie Soetopo, Pembina Yayasan Obor Tani mengatakan, pembangunan embung memakan waktu lebih kurang tiga bulan. Pembangunan ini menggunakan lapisan geomembran. "Bahan ini mampu bertahan hingga 30 tahun. Keberadaan embung ini diharapkan mampu menarik minat generasi muda terhadap pertanian," katanya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
